Ads 468x60px

Search Box

Kamis, 10 Mei 2012

METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF


Pengaruh Bahasa Dalam Cerpen Surat Cinta Untuk Bunda
Terhadap Pemahaman Pembaca
Oleh : Abung Al-Farisy El-Mandury
(Hanya Pendahuluan, Angket & Lampiran)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang Masalah
Cerita pendek yang sering kita kenal dengan istilah “CERPEN” merupakan salah satu bagian dari karya sastra yang didalamnya menyimpan keanekaragaman bahasa, banyak sekali bahasa-bahasa baru diciptakan oleh para sastrawan ketika membuat sebuah karya sastra, salah satu tujuan diciptakannya bahasa baru oleh para sastrawan adalah semata-mata hanya memperindah bahasa dalam karya sastra itu sendiri. Oleh karena itu, jangan heran apabila dalam sebuah karya sastra, bahasa yang di gunakan sulit kita tangkap arti dan maknanya, butuh penafsiran serta ketelitian dalam memahami bahasa yang terdapat dalam sebuah karya sastra.
Disamping menciptakan bahasa-bahasa baru, para sastrawan ada juga yang mencampur adukkan antara bahasa Nasional dengan bahasa Daerah. Biasanya, Karya sastra seperti itu, disesuaikan dengan identitas sastrawan itu sendiri, karena mayoritas dari karya mereka bercermin pada pengalaman pribadi dengan lingkungan disekitarnya. Seperti halnya, jikalau sastrawan tersebut hidup di pulau jawa, dan memiliki pengalaman menarik bersama penduduk jawa, serta pengalaman tersebut diabadikan kedalam sebuah karya sastra, Otomatis untuk menghidupkan rasa kejawaannya, maka mereka menyelipkan bahasa jawanya tadi kedalam sebuah karyanya.
Salah satu karya sastra yang mencampur adukkan antara bahasa nasional dengan bahasa daerah adalah terdapat pada kumpulan cerpen karya Pipiet Senja (Sang pembersih lantai sastra). Di dalam cerpennya, bahasa daerah yang dicampur dengan bahasa Indonesia yaitu bahasa Sunda. Penyelipan bahasa daerah tersebut, dapat menyebabkan dampak negatif dan positif terhadap pembaca, terutama pembaca yang berasal dari daerah luar sunda. Oleh karena itu, ketika Cerpen tersebut sudah ditangan para pembaca yang tidak mengerti sama sekali terhadap bahasa Sunda, Maka mereka akan mengalami kesulitan dalam memahami isi yang terdapat dalam cerpen. Tetapi karena Cerpen tersebut disamping memakai bahasa Sunda juga memakai bahasa Indonesia, sehingga dapat membantu para pembaca dalam memahami isi yang terkandung di dalamnya, mesikupun tidak paham secara sempurna.
Sesuai dengan Venomena diatas, peneliti memiliki ketertarikan untuk menelusuri masalah-masalah tersebut sampai pada akar penyelesaiannya. Dalam proses penelitian ini, peneliti mencari tahu tentang pemahaman dari para pembaca ketika membaca sebuah karya sastra (CERPEN) dengan menyelipkan bahasa daerah yang belum mereka mengerti. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk mengetahui sejauh mana para pembaca memahami karya sastra yang memakai bahasa yang belum pernah mereka ketahui.    

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Menurut Pembaca tentang isi dari Cerpen Surat Cinta Untuk Bunda?
2.      Bagaimana Menurut Pembaca tentang Bahasa yang digunakan dalam Cerpen Surat Cinta Untuk Bunda dan dalam karya sastra pada umumnya?
3.      Bagaimana Pemahaman Pembaca Terhadap Cerpen Surat Cinta Untuk Bunda?
4.      Bagaimana Pengaruh usia dan Daerah Asal Pembaca dalam memahami isi Cerpen Surat Cinta Untuk Bunda?
C.    Tujuan Penelitian
1.      Untuk Mengetahui Pandapat Pembaca tentang isi Cerpen Surat Cinta Untuk Bunda
2.      Untuk Mengetahui Pendapat pembaca Tentang bahasa yang digunakan dalam Cerpen Surat Cinta Untuk Bunda dan dalam karya sastra pada umumnya.
3.      Untuk mengetahui Pemahaman Pembaca Terhadap Cerpen Surat Cinta Untuk Bunda
4.      Untuk Mengetahui Pengaruh Usia dan Daerah asal  Pembaca dalam memahami Cerpen Surat Cinta Untuk Bunda
D.    Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua bagian :
a.       Praktis
1.      Dapat Mengetahui Pemahaman pembaca terhadap Cerpen Surat Cinta Untuk Bunda
2.      Dapat Mengetahui seberapa jauh pembaca menerima cerpen yang memakai bahasa campuran
3.      Dapat mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemahaman pembaca terhadap Cerpen yang memakai bahasa campuran
b.      Teoritis
1.      Dapat menambah kajian bahasa
2.      Dapat menambah kualitas pemikiran dalam menciptakan sebuah karya Ilmiah

  1. Teori
Teori merupakan sarana pendukung dalam sebuah penelitian, Ketidak adanya teori, peneliti akan mengalami kesulitan dalam meneliti sesuatu. Maka dari itu, ketika ada sebuah penelitian pasti  disitu terdapat pula sebuah teori, karena keduanya tidak bisa dipisahkan laksana sebuah perangko yang nempel pada sebuah amlop. Itulah kesetiaan teori dalam mendampingi dan mendukung proses dari sebuah penelitian.
Teori dalam sebuah penelitian memiliki warna yang beraneka ragam. Namun hanya satu yang peneliti pakai dalam penelitian pada pembahasan tentang “Pengaruh bahasa dalam Cerpen surat cinta untuk bunda” dengan memakai teori Resepsi. Peneliti menggunakan teori ini dikarenakan peneliti melibatkan pembaca untuk mengomentari dari karya sastra (Cerpen) tersebut. Sehingga teori ini memudahkan peneliti untuk mengetahui pengaruh bahasa cerpen terhadap pembaca.
Sedangkan pengertian dari resepsi itu sendiri adalah berasal dari kata Recipere (Latin), Reception (Inggris) yang menyimpan makna sebagai penerimaan atau penyambutan bahasa.[1] Sedangkan arti resepsi secara istilah diartikan sebagai pengolaan teks serta cara-cara memberi makna terhadap pembaca. Penjelasan dari pengolaan teks di atas adalah bersumber dari pemahaman pembaca terhadap karya sastra (Cerpen) yang sudah dibacanya. Dengan hal seperti itu, peneliti dapat mengambil kesimpulan terhadap hasil dari komentar pembaca hingga di olah menjadi sebuah teks.
 Sedangkan Relevansi fungsi serta peranan pembaca dalam teori resepsi ini, Sang Tokoh Luxemburg membagi dua bagian pada tradisi klasik, diantaranya adalah pertama menurut Aristoteles dengan konsep Tharsis yaitu penyucian sebuah emosi pembaca melalui pementasan tragedi yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Kedua, menurut Horatus, yang berkaitan dengan dampak atau efek manfaat dan kenikmatan bagi pembaca ketika  selesai membaca sebuah karya sastra (Cerpen). Adapun ekspresi pembaca setelah membaca cerpen “surat cinta Untuk Bunda” sangatlah berfariasi, ada yang merasa terhibur, bahkan ada pula yang merasa kebingungan karena tidak mengerti bahasa yang di gunakan dalam cerpen tersebut. Oleh karena itu, teori resepsi ini sangatlah cocok buat peneliti yang mengandalkan pembaca dalam mengomentari sebuah karya sastra.
  
F.     Metode
Selain adanya teori, metode juga memiliki peranan penting dalam sebuah penelitian, metode juga menjadi faktor pendukung terhadap teori. Kalau diibaratkan kepada prangko, posisi metode adalah perekatnya, sedangkan teori sebagai perangkonya. Jadi kalo perangko tidak ada perekatnya maka perangko tersebut tidak akan nempel pada amplop. Begitu juga dengan teori, apabila tidak melibatkan metode maka tidak akan bisa menjadi sebuah penelitian. Oleh karena itu, keduanya bisa saling mendukung dalam mewujudkan sebuah penelitian dengan sempurna.
Metode dalam penelitian terdapat dua macam yaitu Kualitatif dan Kuantitatif. Pada penelitian ini, sudah jelas menggunakan metode kuantitatif, akan tetapi dengan memakai metode pengumpulan data Kuesioner (angket). Sebenarnya banyak sekali dalam metode pengumpulan data, Namun yang sehati dengan peneliti hanyalah metode kuesioner. Karena metode tersebut sangatlah membantu peneliti dalam memperoleh informasi yang relevan serta memperoleh informasi tentang suatu masalah secara serentak.
Metode Kuesioner ini merupakan suatu rangkaian pertanyaan yang berupa sebuah permasalah atau suatu bidang yang akan diteliti. Untuk memperoleh data tersebut, peneliti hanya cukup menyebarkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah di modif menjadi sebuah angket kepada Responden.[2] Setelah itu peneliti hanya tinggal menunggu hasil dari komentar para responden terhadap angket yang sudah jatuh ketangannya.
Bentuk kuesioner yang dipakai oleh peneliti adalah kuesioner (angket) tipe pilihan, yaitu angket yang harus dijawab oleh responden dengan cara memilih salah satu dari beberapa pilihan jawaban yang sudah di tentukan oleh sipeneliti. Adapun minimal pilihan jawaban yang terdapat pada angket tipe ini adalah dua, sedangkan maksimalnya sebanyak lima pilihan. Penentuan minimal dan maksimal ini adalah hanya untuk menghindari istilah “jemu” terhadap para pembaca. Oleh karena itu, apapun bentuk dari metode pengumpulan data yang peneliti gunakan, namun tujuan untuk mengindari rasa “jemu” terhadap pembaca adalah sama. Dengan kata lain, kalau dalam hal seperti itu memang seharusnya patut di hindari
 
 
LAMPIRAN

Karya Sastra Yang Menjadi Objeck Peneliti

Surat Cinta Untuk bunda
Karya Pipiet Senja
(Sang Pembersih Lantai Sastra)
Kamis, 22 Desember 2005
Waktu ku kecil di hidupku.............
Alangkah senang..............
Senang di timang-timang dinamakan kesayangan..........
Ah, lupa daku lirik lagunya Bu sud... atau Pak Kasur, ya?
Suatu kali, umurku 9 tahun lagi baong-baongnya alias bangor ( bahasa sunda ) melakukan apapun semau gue. Mulai dari sepedahan, keliling kampung regol, ngorupsi duit, belanja buat beli majalah, kokojayan alias berenang di sungai Cileuleuiy, paparahuan di Empang sampai manjat pohon......di atas sumur!
            “Eneeeng...etah ulah luhur teuing, bisi labuuuh!” Eni, demikian kami memanggil nenek dari pihak ibuku, berseru-seru dari jendela. Sementara aku nangkring saja di atas pohon jambu klutuk, tinggiii.............sambil asyik baca buku cerita!
            “Teteh, turuuuun...jangan ketinggian, entar jatuhnya suakiit!” adikku, En, mengingatkanku.
            “ Iya....tenang aja, cerewet!” sergahku sambil menikmati buku cerita karya Karl May, petualangan old Shutherhand dengan suku Apache-nya selalu menyihir otak dan hatiku.
            ‘Sini neeeeeng.....Eni kasih bolu turun yaaaa?” bujuk nenekku pula.
            “Ini....Ema kasih buat jajan," teriak ibuku.
            Aku bergeming. Tetap nangkring di atas dahan dengan posisi uenaaak tenan!
            “ Si teteh mah baooong!Bodo,ah, tinggalin aja!” En akhirnya bosan juga menemaniku, dia menggelosor turun diikuti oleh Dede, sepupuku.
            Jam demi jam berlalu, dzuhur lewat, ashar lewat... menjelang maghrib. Perutku keroncongan, bukuku sudah habis dibaca. Maka pelan-pelan akupun menggelosor turun tapi kepalaku keleyengan, keleyengan dan makin keleyengan. ...
            “Waaaa......tolooooong!
            Aku masih melihat lubang sumur di bawahku menganga lebar dan pastinya dalaaaaam......karena sumur tua, sebelum Ibuku lahirpun konon sudah ada. Sepeninggalan embah terong peot ‘kali,ya? Aku juga masih sempat menyambar sosok Ibuku yang berdiri terpaku di ambang pintu, merentangkan kedua belah tangannya seperti hendak memelukku....Zhieeeeng, gubraaak!
            Dan aku baru siuman setelah lewat isya’, dirubung-rubung dan ditangisi oleh orang serumah ditengah rumah nenekku.
            “Alhamdulillah..... sudah sadar,neng, Geulis...” Demikian yang terucap dari mulut Ibuku, air matanya membasahai rambutku, pipi-pipiku. Dia memelukku eraaaat sekali, seakan-akan tak ingin terpisahkan lagi.
            Ya Robb....betapa kasihnya bunda. Tak ada sesalan meskipun tentu sudah membuatnya kesal setengah mati, sepanjang hari tak mempan membujuk si sulung yang tersihir karya karl May.
            Ibu Oh Ibu.....
            Hari ini ketika tadi pagi di radio prambors penyiar heboh mengucapkan selamat hari Ibu, bergantian mengungkapkan kenangannya tentang Ibu masing-masing..... Kenanganku jadi berputar lagi ke masa silam yang tak mungkin terlupakan.
             Betapa banyak derita, sengsara, kepedihan dan kemarahan yang bisa kutimbulkan akibat ulahku yang seharusnya melukai hati ibuku. Namun, Ibu....Bunda...Emak.....kami menyebutnya demikian. Emak senantiasa tersenyum lembut, terkadang begitu bersahaja dan lugas menerjemahkan situasi yang menimpa anak-anaknya.
            Hari ini, Emak, ku kenang kembali segala cintamu yang pernah kau limpahkan kepadaku. Tiada kata yang mampu ku rangkai, tiada ungkapan yang mampu kusampaikan....hatur nuhun, maaaak....cintamu senantiasa menguatkan semangatku, hingga aku pun berusaha menjadi seorang Ibu yang tegar, Ibu yang tabah, Ibu yang Istiqomah bagi anak-anakku.
            Cinta, Maaak.....senantiasa.
            Anakmu yang belum mampu berbakti sepenuhnya.
     
Angket Pengantar Metodologi Penelitian

Nama          :
Usia            :
Asal daerah :

1.      Menurut Anda, bagaimana isi cerpen tersebut?
a.      Sangat bagus
b.      Bagus
c.      Biasa saja
d.      Jelek
e.      Sangat jelek

2.      Pahamkah Anda, isi dari cerpen tersebut?
a.      Sangat paham
b.      Paham
c.      Biasa saja
d.      Tidak Paham

3.      Bagaimana bahasa yang digunakan dalam cerpen tersebut?
a.      Sulit dipahami
b.      Biasa saja
c.      Mudah dipahami

4.      Mengapa ( lanjutan pertanyaa no.3 )?
a.      Menggunakan bahasa campuran
b.      Terlalu berbelit-belit
c.      Gak nyambung
d.      Lain-lain (Di isi sendiri)_________________

5.      Setujukah anda, jika dalam sebuah cerpen menggunakan bahasa daerah?
a.      Sangat setuju
b.      Setuju
c.      Terserah
d.      Tidak Setuju
e.      Sangat tidak setuju

6.      Kalau setuju, mengapa?
a.      Untuk mengetahui bahasa daerah lain
b.      Lebih variatif
c.      Lain-lain (Di isi sendiri)_________________

7.      Kalau tidak setuju, mengapa?
a.      Sulit dipahami
b.      Menunjukkan sifat primordial (menonjolkan daerahnya masing-masing)
c.      Lain-lain (Di isi sendiri)_________________



[1] Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode dan teknik penelitian sastra, hal 165
[2] Orang yang menjawab pertanyaan dari beberapa angket yang sudah disebarkan


0 komentar:

Posting Komentar