Melihat banyaknya kejadian yang menimpa bangsa Indonesia, Agus Purnomo membentuk sebuah komunitas peduli bangsa, berawal dari sebuah tekad yang kuat, modal yang sedikit, komunitas tersebut berkembang pesat dengan beranggotakan lebih dari seribu yang berasal dari segala penjuru di Indonesia.
Agus purnomo merupakan salah satu dari orang-orang yang terpinggirkan, dia hanya hidup sebatangkara di sebuah kubuk kecil di pinggiran kota, akan tetapi kepedulian agus terhadap Bangsa sangatlah menggunung, bahkan dia rela melakukan apa saja demi mempertahankan kesejahteraan bangsa.
Suatu ketika, Agus berjalan-jalan disebuah kota melihat aktifitas rakyat kecil yang mengais rezeki dan mengadu nasib di tengah-tengah kekejaman kota. Dia mengunjungi satu-persatu para pedagang kaki lima untuk menanyakan alasan, kenapa mereka bekerja di kota. Bermacam-macam alasan agus dapatkan dari lisan-lisan seseorang yang kehidupannya sangat membutuhkan sentuhan lembut dan perhatian khusus dari pemimpinnya.
Akan tetapi, di saat kemudian, terlihat beberapa mobil milik petugas satpol PP sedang menuju lokasi tempat rakyat kecil membuka usaha untuk mempertahankan hidupnya. Wajah-wajah ketakutan, pikiran mulai tidak karuan, itulah yang sedang dirasakan oleh para pedagang, mereka rela berjatuhan demi menyelamatkan barang-barangnya dan berusa melangkahkan kakinya dengan cepat menuju tempat yang lebih aman. Akan tetapi usaha mereka tetap tercium oleh para petugas yang hanya melaksakan perintah dari atasan tanpa memiliki rasa kemanusiaan terhadap para korban penertiban.
Jerit tangis menggemparkan suasana kota yang begitu mencekam, ketika barang-barang rakyat kecil dirampas dengan cara paksa oleh para petugas, bahkan yang sangat menyedihkan ketika peroses penertiban selesai, para petugas tidak pernah memikirkan adanya ganti rugi berupa sebuah tempat yang layak dibuat untuk membuka usaha. Mereka para PKL dilantarkan begitu saja, padahal mereka juga punya hak untuk mendapatkan semua itu. Apakah karena gara-gara demi meraih piala adipura, hingga membuat rakyat kecil menderita?. Apakah dengan meraih piala adipura dapat memberikan kebahagiaan pada rakyat kecil?. Itulah kelemahan bangsa ini dalam menerapkan sebuah peraturan.
Melihat kejadian itu, agus purnomo merasa negeri ini sudah pincang, yang dilindungi hanyalah orang-orang berkantong tebal, sedangkan yang mengidap penyakit kangker (Kantong kering) malah di kucilkan dan tidak pernah di hiraukan.
Bersama komunitasnya, agus mulai bangkit dan mengajak para pedagang yang telah menjadi korban penertiban untuk bersama-sama membuka lembaran baru dengan menciptakan lapangan kerja, mulai dari kreasi membuat kerajinan tangan yang terbuat dari bahan-bahan bekas, hingga membuka sebuah depot sederhana dan semua modalnya mereka dapatkan dari usaha mereka sendiri sebelum menjadi korban penertiban.
Waktu terus berjalan tanpa henti, begitu pula kemajuan komunitas peduli bangsa kian hari kian memukau, bahkan sudah banyak rakyat kecil menanam benih-benih kesuksesan lewat komunitas yang didirikan oleh sang pemuda tangguh bernama agus purnomo. Kesuksesannya di komunitas ini, membuat agus tambah disegani banyak orang, akan tetapi pancaran sikap merakyatnya selalu menjadi sampul pada dirinya, kesombongan dan keangkuhan tidak akan berani mendekat apalagi menyentuh diri agus. Sikap santun dan kesederhanaannya selalu menjadi teman dalam kehidapan sehari-hari. Karena itulah komunitas yang ia dirikan selalu eksis meskipun banyak jurang-jurang penghambat yang pernah menghantuinya.
Karena penderitaan bangsa Indonesia kian hari kian parah, agus mulai gelisah dan berencana mengadakan aksi protes terhadap pemerintah yang selalu terbelit-belit dalam menyelesaikan penderitaan yang diderita oleh bangsa ini. Bersama komunitasnya, dia kerahkan segala kekuatan untuk berhadapan dengan orang-orang yang menjadi kunci atas kesembuhan bangsa. Semua persiapan sudah dipersiapkan sebelumnya, keluhan-keluhan yang harus disampaikan juga sudah terekam dan siap untuk disampaikan kepada sang pemimpin. Namun setelah kaki mereka menginjakkan halaman istana, ternyata sang pemimpin tidak ada di sana, entah ini disengaja atau tidak, tapi yang jelas semangat mereka untuk menyembuhkan penyakit bangsa terus mereka kerahkan.
Kegelapan malam selalu menyapanya tanpa henti dan Mataharipun selalu menampakkan sinarnya berulangkali, namun komunitas peduli bangsa belum bisa bertemu dengan sang pemimpin yang seharusnya mendengar keluh kesah dari mereka, karena sudah merasa tidak dipedulikan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan di negeri ini, maka semangat komunitas peduli bangsa sudah mulai luntur, akan tetapi mereka tetap memiliki benih-benih semangat baru, meskipun tidak mampu membantu menyembuhkan penderitaan bangsa melalui kekuatan fisik, namun mereka tetap peduli dengan sebuah lantunan do'a demi kebangkitan bangsa yang saat ini menahan derita yang begitu menyakitkan.
Dari semua perjalanan hidup Agus Purnomo disaat memikirkan penderitaan bangsa, dia kemudian merenungi dan menjadikannya dalam sebuah rangkaian kata-kata yang merupakan luapan isi hatinya ketika menghadapi cobaan yang diderita bangsa Indonesia
Aku bangga pada mu
Aku bangga menjadi bagian dari mu
Aku bangga…
Sungguh aku bangga
Dukungan tanpa ada rasa bangga
Bangga saja tanpa ada dukungan
Engkau akan cacat
Engakau akan pincang
Engkau akan merasakan perih menyakitkan
tangisanmu kan ku dengar selalu
Keluhanmu kan ku rekam dalam memory ku
Aku mau engkau bangkit
Bangkit dalam keterpurukan
Bangkit dalam jurang gelap menakutkan
Bangkit demi meraih sinar yang terang
Engaku menjerit
Diri ini terasa sakit
Engkau histeris
Diri ini merasakan kepiluan yang mendalam
Kini ku berharap…
Tak lagi mendengar jeritanmu
Tak lagi mendengar tangisanmu
Karna ku yakin engkau akan tegar
Setegar symbol kebangsaan
GARUDA
Akhirnya agus tetap menjadikan penderitaan bangsa sebagai impian belaka, karena dia yakin kalau bangsa Indonesia akan dapat mengatasai penderitaannya dengan kekuatan yang dimilikinya, Indonesia itu tegar, Indonesia itu penuh dengan darah semangat juang yang tinggi, Indonesia adalah Negara yang begitu sempurana dengan kekayaan yang tidak dimiliki oleh negra-negara lain. I love Indonesia







0 komentar:
Posting Komentar