Ads 468x60px

Search Box

Sabtu, 07 Desember 2013

Narcissus Masa Kini

Oleh: Abung Alfarisy

Hidup di tengah gedung berdiri, tegap menatap langit tanpa henti. Desiran merdu angin yang dirindu, berubah menjadi kepulan asap yang menggebu. Narcissus melawan ganasnya kehidupan kota yang semakin mencekam, terlahir sebagai laki-laki berparas sutra, dengan bekal topeng yang tampan, harta bertebaran, bahkan tahtanya pun mapan. Namun teropong kedua orang tuanya tidak sempat memantau, sehingga membuat dirinya terbang bebas menelusuri dunia tanpa batas.

Narcissus selalu terlihat percaya diri, karena memang dia merasa dirinya paling cakep, dengan senyuman dan tatapan puas ketika di depan cermin. Dari kepuasan itulah, nalurinya selalu mendorong mencari kupu-kupu malam yang tidak begitu susah untuk ditemukan. Lembaran malamnya selalu dibumbui dengan coretan tinta hitam, tanpa ada segores tinta putih menghiasi setiap lembaran yang dimiliki. Kelihatan suram namun masih saja kenikmatan yang dia rasakan.

******
Waktu telah berlalu mengikuti alur kisah Narcissus menjadi seorang laki-laki, yang masih belum puas mengagumi diri. Sehingga sifat ‘Nakal’nya terus melaju ke level tertinggi. Namun melihat putranya semakin liar, Liriope dan Cephisus sebagai ibu dan ayah Narcissus, mencoba untuk mengikatnya dengan memberikan cinta berupa sesuatu yang menjadi rahasia.
“Narcissus anakku, pendamlah duniamu itu,” ucap Liriope, ketika melihat Narcissus yang hidupnya semikin tidak terarah.
“Sulit untuk memendam dunia yang telah terlanjur kunikmati, wahai Ibu,” jawabnya dengan penuh percaya diri.
“Jangan kautolak perintah Ibumu, Narcissus!” bentak Cephinus, ketika mendengar jawaban dari Narcissus
“Sudah Ayah, jangan terlalu kaukasar dengan anak sendiri,” Liriope melerai.
Narcissus tertunduk melihat muka Ayahnya yang merah, tanpa bisa berucap seolah mulut terkunci dalam sekejap.
“Narcissus, Maafin Ayah, dia tidak bermaksud untuk menyakitimu,” bisik Liriope sembari mengelus-elus kepala Narcissus.
“Kami punya sesuatu buat Narcissus, tapi sesuatu itu bisa diperoleh, jika Narcissus mau ninggalin dunia kelam itu,” dengan lantang Cephinus berujar, sambil menatap penuh harapan untuk membujuk putra semata wayangnya. Narcissus tetap menggeleng-gelangkan kepala, sebagai simbol penolakan tawaran dari Ayahnya.
“Ok, kalau Narcissus tidak mau, tapi sebelumnya lihat dulu, seperti apa sesuatu yang kami maksud,” ucap Cephinus, Narcissus pun setuju.

“Silahkan masuk,” perintah Chephinus pada seseorang yang dari tadi sudah siap menunggu datangnya perintah.

Kemudian tampak seorang gadis polos, berparas cantik dihiasi senyuman yang menggelitik, hingga mampu menghipnotis pandangan Narcissus dalam beberapa detik. Narcissus sempat tidak bisa memejamkan mata, bahkan tatapannya seakan mulai untuk menyapa.
“Sesuatu berupa gadis inilah yang kami maksud, Dia bernama Echi” kata Cephinus memberikan kesempatan kepada Narcissus untuk cepat mengambil keputusan.
“Baik, Ayah dan Ibu, aku akan mencoba terima tawaran ini.”

Akhirnya Chepinus dan Liriope bisa bernafas lega mendengar keputusan akhir dari putranya. karena merasa berhasil membujuk Narcisus dengan segala perasaan cinta, sehingga Narcissus siap menjadi pemilik tulang rusuk gadis, yang sudah menjadi pilihan orang tuanya.

*****
Pernikahan sudah berlangsung lama, mengikuti getaran cinta penuh irama, sehingga bertahun-tahun singgasana asmara di antara Narcissus dengan sang Permaisuri Echi, mengundang polemik yang menguncang dunia. Perlahan-lahan deraian air mata menetes dengan sendirinya, ketika pasukan "Retroviruses" menyerang keduanya. Tubuh yang semula kekar kini sudah kerontang. Wajah yang semula tampan kini sudah menjadi santapan, oleh virus-virus yang menggerogoti tubuhnya. Akhir cinta yang begitu tragis. Sang Permaisuri yang hanya menerima kini juga ikut merasakannya.


Senin, 02 Desember 2013

NEGERI TANPA SAYAP


Cernak (Cerpen Anak)
Oleh: Abung Alfarisy



Garuda pancasila
Aku lah pendukungmu
Patriot Proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju... maju...  3x
            Jadi simbol negara kita garuda ya pak?” tanya Tomi (Siswa Kelas 5 SD). “Benar Tom..!! negara kita bersimbol Garuda, karena garuda itu memiliki jiwa yang tangguh, pemberani, dan punya sayap sehingga bisa terbang tinggi memberi kabar kepada dunia tentang kehebatan Indonesia,” jawab Bapak Agus (wali kelas Tomi). Besok kita memperingati hari ulang tahun bangsa, jadi kalian harus siap berangkat pagi-pagi untuk upacara bendera,” tambahnya. “Baik Pak....!!” jawab murid serentak.
            Bel sekolah pun berbunyi, sebagai tanda kalau proses belajar sudah selesai, Tomi selaku ketua kelas mulai memberi komando kepada teman-temannya untuk memimpin do’a serta salam penutup. Setelah semuanya selesai, satu persatu murid meninggalkan kelas.
            Tom...Tom...Tomi...!!!” terdengar teriakan memanggil-manggil Tomi, Tomi pun mencari seseorang yang memanggil dirinya. Dan ternyata Bapak Agus. “Bapak memanggil saya?” Tanya Tomi. “Ya benar, sini dulu sebentar!” jawab Bapak Agus dengan tersenyum. “Ada apa ya pak?” Tomi kembali bertanya, seolah-olah penasaran tetang apa yang mau disampaikan oleh Pak Agus.  Besok kamu menjadi pemimpin upacara ya? Tema-teman yang lain sudah saya tugaskan untuk mengambil peran semua,” mendengar perintah Bapak Agus, Tomi langsung siap dan bersedia menjadi pemimpin upacara besok. Pak Agus pun senang melihat semangat Tomi.
            Ketika di rumah, Tomi menyaksikan berita di televisi tentang carut-marut kasus kriminal yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari pencurian, penipuan bahkan pembunuhan. Hal itu membuat Tomi merasa iba terhadap bangsa Indonesia, dia sangat menyesalkan perbuatan rakyat yang sudah di luar batas, menjelang ulang tahun bangsa ini, malah semakin banyak kasus kriminal yang terjadi.
Melihat keseriusan Tomi terhadap berita yang disaksikan, ayah Tomi tersenyum dan berkata “Kamu itu masih kecil nak, kok tingkahlakunya seperti orang dewasa,” mendengar ucapan ayahnya tadi, Tomi menjawabnya dengan tegas, “Saya memang masih kecil Yah, tetapi saya memiliki jiwa besar untuk bangsa ini.” Sikap Tomi tadi membuat sang ayah merasa kagum karena memiliki anak yang berjiwa patriotisme tinggi untuk negeri.
“Tapi sayang Nak, bangsa Indonesia ini kurang dikenal oleh dunia, Banyak wisatawan dari manca negara yang lebih mengenal Bali daripada Indonesia,” kata ayah Tomi sembari memberi tahu tentang kondisi yang sedang dialami bangsa Indonesia. Kemudian Tomi pun kembali bertanya “Kok bisa begitu yah, padahal kata pak Agus Indonesia itu Garuda, punya sayap sehingga bisa memberi kabar kepada dunia tentang keindahan yang dimilikinya?” Mendengar ucapan anaknya tadi, sang ayah tersenyum dan berkata “Indonesia itu memang bersimbol garuda, namun itu hanya simbol saja, sebenarnya Indonesia itu belum memiliki sayap sehingga dunia belum bisa mengenal Indonesia.”
Setelah mendengar penjelasan ayahnya tadi, Tomi langsung berdiri dan berkata “doakan yah semoga anakmu bisa membuat Indonesia lebih dikenal dunia.” Kemudian ayahnya mengacungi dua jempol sebagai simbol bahwa sang ayah sangat kagum kepadanya.
Hari sudah beranjak pagi, kini tibalah saatnya melaksanakan upacara bendera dalam rangka merayakan hari ulang tahun bangsa Indonesia, acaranya penuh khidmat dan para guru serta kawan-kawan meresapi semua perjuangan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan. “Saya bangga kepadamu negeriku, meskipun dirimu tidak memiliki sayap. Akan saya buktikan kepada dunia tentang kehebatanmu Indonesiaku.”

DIHARI ULANG TAHUN MAYA


Cernak (Cerpen Anak)
Oleh: Abung Alfarisy

Happy birthday to you ...
Happy birthday to you ...
Happy birthday ... Happy birthday ... Happy birthday to you .......
“Selamat ulang tahun ya anakku,” kata Mama Karin sembari mencium kedua pipi buah hatinya yang sedang bahagia diulang tahunnya yang ke 9. Semua undangan pun bergantian mengucapkan selamat kepada Karin, termasuk Maya teman Karin yang hidupnya paling sederhana di antara yang lain. “Terimakasih banyak ya, Maya udah nyempetin hadir diulang tahunku,” ucap Karin kepada Maya diikuti dengan senyum manisnya. “Sama-sama Karin,” jawab Maya seraya membalas dengan senyuman pula.
Ketika semua undangan menikmati hidangan yang disuguhkan oleh keluarga Karin, Maya termenung dalam hatinya bergumam “Aku ingin sekali di hari ulangtahunku perayaannya seperti ini, tapi rasanya tidak mungkin. merayakan saja belum pernah, apalagi perayaannya semewah ini, semuanya hanya mimpi, belum bisa aku jadikan kenyataan,” masih dengan pandangan kosongnya.
“Maya,kok melamun ... ?” kata Karin membangunkan Maya dari lamunannya, Maya pun kaget dan merasa bingung sendiri, “Hehehehehe maaf ya, Aku gak sadar kalau ada Karin di sampingku” ucap Maya sembari meringis dengan wajah tersipu malu. “Ya sudah, nikmati saja tuh makanan yang aku sediain, jangan sambil melamun ya,” jawab Karin dengan sedikit senyuman. Maya pun langsung mengambil hidangan yang sudah tersedia di meja. Semua menunya lengkap, bahkan Maya sempat bingung mau makan yang mana. Karena hidangan tersebut merupakan hidangan yang pertama kali dia temukan.
Setelah acara di rumah Karin selesai, Maya bergegas pulang ke rumah karena dia harus melanjutkan untuk membantu ibunya berjualan kue. Pekerjaan itulah yang sering Maya lakukan untuk bisa menyambung hidup. Sedangkan ayah Maya sudah lama tiada, kini Maya hanya tinggal dengan ibu dan adik-adiknya di rumah yang sederhana, namun kesederhanaan tersebut tidak membuat Maya malu atau gengsi untuk bergaul dengan teman-temannya yang rata-rata dari keluarga menengah keatas.
Usia Maya dengan Karin hanya selisih satu bulan, namun Maya selama hidupnya tidak pernah merayakan ulangtahunnya, dia hanya diberi tambahan uang jajan saja oleh ibunya ketika Maya ulang tahun. Meskipun seperti itu, Maya sangat mengerti tentang kesedernahaan keluarganya, dia tidak pernah menuntut ini dan itu kepada sang ibu. Semua yang ibu Maya berikan, dia menerima meskipun dia tidak begitu suka dengan pemberiannya. Kepada adiknya pun demikian, jika Maya punya barang, kemudian adiknya ingin memiliki barang tersebut, Maya pun berusaha untuk mengalah demi kesenangan dan kebahagiaan adiknya. Sehingga bagi Maya kesederhanaan yang dia alami, merupakan kebahagian yang dia miliki.
Hari pun silih berganti, siang dan malam mondar mandir tanpa henti, mengiringi perjalanan hidup Maya yang berbalut kesederhanaan. Tinggal menghitung hari. Ulang tahun Maya semakin dekat, tidak ada tanda-tanda  kalau ulang tahun Maya akan dirayakan, hal itu sudah dianggap biasa oleh Maya. Karena memang setiap tahun dia tidak pernah merayakan ulang tahunnya.
Happy birthday to you ...!!!
Akankah kata itu akan kudengar di hari ulang tahunku?
Akankah ada yang menyampaikan kata itu untukku ?
Akankah kata itu hadir menjadi saksi bertambahnya usiaku ?
Aaah ....!! rasanya tidak mungkin
Semua hanyalah hayalanku
Semua hanyalah impianku
Semuanya semu tiada bukti nyata untukku
Tapi ....
Tetap aku ucapkan nanti
Hanya untukku sendiri
Happy birthday to Me ...
Akhirnya tibalah hari yang menjadi saksi bertambahnya usia Maya. Namun suasana dihari itu tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Maya tetap beraktifitas seperti biasanya, sekolah dan membantu ibunya berjualan kue. Maya pun tidak sedih jika ulang tahunnya kembali tidak dirayakan, yang penting bagi Maya dia bisa hidup bahagia bersama orang–orang terdekatnya.
Akan tetapi, Maya merasakan ada yang aneh pada ibunya. Biasanya sang ibu jika Maya ulang tahun tidak pernah lupa memberi tambahan uang jajan sebelum berangkat sekolah. Namun dihari ulang tahun yang sekarang, malah tidak ngasih uang jajan tambahan. Bahkan ibunya tidak pernah menyinggung sedikit pun tentang hari ulang tahun Maya. “Aneeh, apa mungkin ibu lupa ya?” tapi biasanya ibu gak pernah lupa.. gak apalaah yang penting ibu dan adik-adikku masih sehat.” Ucap si Maya dengan sedikit kebingungan, namun dia tetap menerima keadaan dan tidak meminta ibunya untuk mengingat hari ulang tahunnya.
Setelah pulang sekolah ketika Maya di rumah, ibunya menyuruh Maya mengantarkan pesananan kue ke salahsatu alamat. Maya pun segera berangkat mengantarkan kue tersebut, langkah demi langkah dia gerakkan kakinya menuju alamat yang dituju. Namun setelah Maya sampai di alamat rumah tersebut. Maya bingung, karena di rumahnya terasa sepi dan tidak ada sedikit pun orang yang tampak di rumah itu. Berkali-kali Maya pencet bel. Tapi tidak ada tanggapan dari pemilik rumah. Aduuuh gimana nih?? Kok gak ada orang?? Mau ditinggal takut kuenya ada yang ngambil, aduuuh gimana ya??” Ucap Maya kebingungan.
Sesaat kemudian .......
Happy birthday to Maya ...
Happy birthday to Maya ...
Happy birthday ... Happy birthday ... Happy birthday to Maya .......
Maya pun kaget, serta tidak pernah menyangka kalau ini akan terjadi, hingga dia gak bisa mengucapkan kata-kata, dia bingung apa yang harus dia lakukan, menangis karena terharu dan kebahagiaan bercampur menjadi satu.
“Makasih banyak teman – teman, kalian memang benar-benar terbaik buat ku, terima kasih.” Hanya kata-kata itulah yang mampu diucapkan Maya di hadapkan teman-temannya. Linangan airmata kebahagiaan telah menghiasi pipi merahnya. “Selamat ulang tahun Maya ...!” kata Karin “Kami memang sengaja merencanakan ini semua, termasuk ibu dan adik-adikmu, karena kami tahu bahwa Maya sangat mengharapkan perayaan dihari ulang tahunnya, meskipun hanya sederhana,” tambahnya. Maya pun menghampiri teman-temannya dan berkata “terimakasih banyak teman... aku hanya mampu tersenyum sebagai tanda terimakasihku kepada kalian,” kemudian mereka pun saling berpelukan, peluk erat seolah-olah tidak ingin berpisah. Disaat mereka berpelukan, datanglah ibu Maya dan adik-adiknya dengan senyum indah yang tertuju pada Maya. Beliau pun ikut bergabung dan menikmati kue buatannya sendiri serta kue-kue lain dari teman-temannya.
Akhirnya Maya memahami tentang sikap aneh ibunya yang tidak memberi uang jajan tambahan. Ternyata sang bunda telah bekerja sama merencanakan kejutan ini semua. “Terimakasih ibu, adik-adikku, terimakasih kawan dan terimakasih semuanya. Senyumku akan selalu aku hadiahkan kepada kalian semua.”
I Love To all  ^_^