Puisi berantai dari pena sahabat
AA:
Sepi belum tentu kumati
Masih terdengar hirukpikuk bersahutan
Dalam relungan nafas sebuah titian sang mantan
Mendetak nadi dalam diri menanti penantian tiada henti
Tidak ada ekspersi
Hanya sebuah ilusi
Dalam penantian sunyi
Renungan malam sembunyi
AM:
Pun aku, terbelit rindu yang menyemak bayangnya
Gigil dan panas bermunajat dalam lisan
AA:
Munajatku belum ampuh tumbuh
Mengisi peti mati dalam diri
Hanya pasrah tanpa arah
Menuju sirat tak bertepi
AM:
Sirat tak bertepi
Tajam dan ngilu menyayat jiwa
Hanya ketenangan dan sabar
Setapak akhir tujuan terang terlihat
AA:
Masihkah lentera itu terlihat?
Harapan sudah memuncak
Pada pencak benteng tegak
Menuai rasa dalam mantra bina
AM:
Ya, akan terlihat nyata
Saat putaran waktu tepat dalam sumbu takdirnya
di sanalah putaran berjalan kembali dan akan terus seperti itu
hingga waktu terhenti menyibak suara sangkakala.
AA:
Tak mampu kiranya kudengar suara sangkakala itu
Dalam qalbu masih penuh titik hitam nodai setiap kesucian
Diam,
Hanya Diam
Membisu
Tanpa nada dalam lagu
AM:
Titik hitam akan luruh,
Ketika hati merepas nafsu hitam
Disaat itu,
Tak ada kawan atau lawan
Susu atau airmata atau tertawa hingga keluar liur lidah
Yang tersisa hanya keringat setinggi mulut
Setangkup sabar yang dulu khidmat kita dzikirkan
: luruhkan panas dan banjir airmata
PNA:
gelapnya hanya karena sang kekasih telah pergi
ataukah...
sang qalbu suram karena ternoda dosa
dan...
haruskah kau menyendiri
hanya karena menunggu penantian sunyi
AA:
Memang...!!!
Saat ini, kamus suci sudah kupelajari
Menata kepingan sabar
Dengan ketajaman alif yang berlapis
Namun,
Belum juga kutemukan lentera yang sebenanrnya harus kutemukan
hingga titik hitam itu mengancam
Dalam balutan dendam sang anak Adam
AM:
Tariklah Sang Putri lembut dalam pilumu
tentu kau lihat secercah sungging dalam netra yang elang
lalu pingit ia dalam peluk,
lirihkan lirik alif bersambung---hingga ijab dan kabul.
PNA:
bukan...
bukan pelita itu tak ada
namun,
kau tidak menyadarinya
pelita itu sangatlah begitu nyata
hanya kau yang tak mampu mengungkapkannya
AA:
Masih,
Masih belum mengerti tentang alif
Dalam kobaran nafsu tidak bisa melirik
Hanya iqlab yang mampu berbuat
Pada ba' sendiri memandang Mim yang telah mati
Hingga,
Hingga terasa pelita itu menyapa
Ketika sang Tanwin Berlari
Mendaki cinta dalam kobaran api asmara
AM:
Bukanlah abang tak mampu tunjukkan epolet rindu
Bukanlah alif tak mampu bersanding dengan ba' atau mim
Tetapi telisik sifat suratan takdir belum menyatu
menunggu huruf waw yang mengikat huruf-huruf suci itu
AA:
Eits...!!
Jangan salah
Jangan lupain daku si Nun
Ba' dan Mim bersatu melewati jembatan Nun
Melawan terjangan duri makhorij alif
Tanpa nyawa belum bisa memilukan duka
AM:
Alif date a, alif doma' u,
Ikatan tak lepas---rekat erat
Tolong rangkaikan alif dan nun hingga terengkuh 'cinta'
AA:
Jalinan Cinta antara alif dan nun
Tak sesulit tancapkan paku pada kayu
Jika semua ada palu menopang di atas paku
Alif merasakan cinta masih belum bisa
Karena dia beku dalam diam mati surinya
Bantuan Syakal satusatunya
Mengantarkan alif berkepompong Hamzah
Demi meraih cinta pada setiap huruf nun salah satunya
Hingga menjadi AiNun dalam ejaannya.
Tergores tanpa sengaja dari pemanah pena sahabat — Abung Alfarisy (AA) bersama Andi Maulana (AM) dan Putri Nurul Akhla (PNA)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



.gif)



0 komentar:
Posting Komentar