Awan mendung mewarnai alam, hingga suasana menjadi gelap mengiringi aku dan ibunda pergi merantau. Menembus gelapnya kegelapan, menyebrangi rintikan–rintikan hujan, dan melawan hembusan angin kencang. Kami berdua tetap saja merantau, untuk bertemu dengan salah seorang yang s’lama ini aku rindukan. Tak ada lain orang itu adalah Ayahanda tercinta, yang hilang bagai ditelan bumi.
Disa’at petir menyambar, dan bumi mengamuk hingga banyak pepohonan jatuh dan runtuh. Namun semua itu tidak akan bisa mematahkan semangat kita berdua. Sehingga Aku dan Ibunda tetap meneruskan perjalanan tanpa mengenal keadaan yang semakin mengganas
Dikeluargaku hanyalah tinggal aku dengan Ibunda. Karena ayah sudah lama meninggalkan kami berdua. Sehingga sedih rasanya jikalau dalam sebuah keluarga kehilangan seseorang yang dicintai, Ayah pergi tanpa alasan yang jelas, Beliau Cuma bilang untuk pergi dalam jangka waktu tujuh hari, sehingga kemudaian kepergiannya melebihi waktu yang telah dijanjikan, bahkan sudah sampai tiga bulan beliau belum juga kembali. Bersamaan dengan peristiwa itu, Ibunda jatuh sakit sehingga membuat diriku semakin sedih dan hari-hariku selalu digeluti deraian air mata. Aku tidak tega mendengar rintihan-rintihan ibu yang selalu menyebut-nyebut nama ayah. Dan seharusnya apa yang harus aku lakukan untuk bisa membahagiakan ibu?
Setelah dua minggu berlalu, ada salah seorang tetangga memberi kabar kepadaku, bahwasanya dia pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang memiliki ciri persis seperti ciri Ayahku. Laki-laki itu katanya tinggal disebuah tempat yang jauh dan sepi dari penduduk, sehingga dia selalu pergi kepasar desa ini untuk mencari bekal hidupnya. Setelah itu aku beranggapan bahwa laki-laki itu adalah Ayahku.
Untuk membuktikan kebenaran berita yang didapat dari tetanggaku, Aku punya rencana untuk merantau sambil mencari ayah mulai besok dan rencananya aku pergi sendirian, akan tetapi ibunda ingin ikut merantau juga, Aku khawatir, takut terjadi apa-apa pada diri Ibu, karena beliau masih dalam keadaan sakit, sehingga aku melarangnya untuk ikut. Namun keinginan Ibu sangat kuat meskipun sudah saya bujuk Beliau untuk tidak ikut. Sebagai seorang anak, aku tidak enak sendiri menolak keinginan sangIbu, meskipun kondisi ibu tidak baik. Sehingga aku terpaksa menerima permintaan Ibu.
Keesokan harinya Aku dan ibu mulai berangkat untuk merantau sambil mencari ayah, kemudian aku menitipkan rumah ketetangga dekatku dan al-hamdulillah dia sanggup menjaganya, setelah itu aku dan ibunda mulai melangkahkan kaki meninggalkan desa kelahiranku dengan bekal yang insya Allah cukup untuk kami berdua selama kami berada dalam perjalanan.
Dua hari sudah kami lewati. Namun tidak ada tanda-tanda tentang keberadaan Ayah, akan tetapi semangat kami untuk mencari Ayah tetap teguh dan kokoh sehingga kami terus melanjutkan perjalanan walaupun banyak rintangan dan tantangan yang menimpa kami berdua.
Ketika perjalanan kami sudah makan waktu satu minggu, Ibunda mengeluh dan menyuruh aku untuk mencari tempat istirahat, karena beliau sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Dan akhirnya aku berusaha untuk mencarinya sebab aku tidak tega mendengar keluhan yang terucap dari lisan bunda. Dan ternyata Al-hamdulillah aku menemukan tempat yang kami harapkan.
Setelah kami menempati tempat itu, Ibunda langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat yang terbuat dari bambu-bambu yang sudah dipotong-potong menjadi sebuah tempat tidur untuk menghilangkan lelah, yang sudah terkuras sebelumnya.
Sebentar kemudian, ibu telah nyenyak dari tidurnya, bersamaan dengan itu kudengar alam mulai batuk, bertanda akan turun hujan, sehingga sedikit demi sedikit setetes air hujan jatuh diatas keningku, Aku mulai melindungi diri dari jatuhnya air yang semakin deras. Selain itu angin sudah mulai mengipas dirinya dengan kencang, hingga membuat diriku tak mampu menghindarinya. Ketika itu juga sambaran petir juga menghantui malam ini dan membuat semua isi alam gemetar ketakutan.
Bercermin dari peristiwa ini, Aku renungi, hayati dan mengabadikan kedalam sebuah syair untuk dijadikan memory dalam hidupku, karena selama aku hidup tidak pernah merasakan peristiwa yang saya rasakan saat ini .Kumulai merangkai kata demi kata sehingga membentuk sebuah puisi yang aku alami sekarang.
Malam tiada bunyi
Hembusan angin tiada henti
Hujan deras dengan petir yang menyambar
Sungguh malam yang menakutkan……….
Malam yang membuat alam berantakan
Malam yang banyak merugikan insan
Sungguh malam yang menakutkan ……….
Malam yang disertai angin kencang
Yang membuat bumi terasa bergoncang
Sungguh malam yang menakutkan ………..
Disertai hujan dan petir yang menyambar
Yang membuat semua orang ketakutan
Sungguh malam yang sangat menakutkan…
Setelah itu, lamunanku ketika membuat sebuah puisi dikejutkan oleh rintihan ibu, sehingga aku mendekatinya dan menyuruh bunda untuk tidur kembali dan akhirnya bunda melanjutkan kembali tidurnya sampai-sampai membuat diriku untuk ikut tidur dibawah lapu bulan punama bersama ibunda.
Ketika pagi sudah tiba, matahari mulai menampakkan dirinya, dengan cahaya dan sinar yang ia miliki. Dan kudengar burung-burung bernyanyi dengan riang, menyambut datangnya pagi yang cerah. Selain itu air embun yang s’lalu membuat suasana pagi menjadi lebih segar ditambah lagi dengan sepoian angin pagi yang dapat merasakan kelembutan dipagi hari. Dan kemudian aku juga mendengar kokokan ayam jantan yang dengan setianya membangunkan aku dari tidur malamku. sehingga membuat diriku merasakan keindahan yang tersirat dipagi hari. Ketika itu juga, pagi yang tadinya cerah telah dicemari oleh rintikan-rintikan hujan, tetapi meskipun demikian matahari tetap menampakkan dirinya, sehingga ia dapat mengalahkan rintikan-rintikan hujan untuk berjatuhan kembali. Namun tiba-tiba kulihat pelangi muncul dengan keindahan warnanya yang berfariasi menambah indahnya suasana dipagi hari.
Dari keindahan pagi yang aku rasakan, membuat tanganku untuk menulis sebuah puisi kembali sebagai memory yang kedua dalam perjalananku. Sehingga kesedihan yang aku alami sekarang dibuatnya tidak terasa oleh keindahan alam sa’at ini.
Sayup-sayup angin pagi
Dengan embun yang membasahi
Disertai mentari pagi
Menghiasi alam ini
Rintik-rintik air hujan
Membasahi dedaunan
Memberi kesan yang menyenangkan
Bagi setiap insan
Sepi-sepi air hujan
Hingga timbul sinar yang terang
Dengan pelangi yang bersinar
Menghiasi keindahan alam
Kemudian setelah itu kami bersiap-siap untuk melanjutkan kembali perjalanan yang sudah makan waktu hampir dua minggu. Kami berdua akhirnya sampai ditempat yang sepi dan jauh dari penduduk, sehingga kami menemukan sebuah gubuk yang kelihatannya tidak ada penghuninya, akan tetapi hati kecilku mengajak untuk pergi kegubuk tersebut dan ternyata kumelihat ada seorang laki-laki yang tidak berdaya sedang berbaring lemas diatas beberapa daun pisang, Aku yakin bahwa orang itu adalah ayahanda yang s’lama ini aku rindukan, dan kemudian aku dan ibu menghampiri laki-laki itu, akan tetapi apalah yang terjadi, orang itu bukanlah ayah yang sedang aku cari, bahkan dia adalah orang gila yang tidak tahu apa-apa. Melihat semua itu aku dan ibunda kecewa karena yang kami lihat bukan ayah, kemudian bunda menyuruh aku untuk melanjutkan perjalanan.
Keesokan harinya aku dan bunda melanjutkan perjalanan dengan bekal yang kami bawa tinggal sedikit, sehingga kami menghemat bekal tersebut agar tidak cepat habis. Namun al-hamdulillah Allah telah memberikan rizki pada kami berupa makanan yang kami temukan pas dihadapan ku. Dan akhirnya aku mengambil makanan itu untuk membantu kami melanjutkan perjalanan.
Setelah kami menikmati makanan tersebut, kami melanjutkan lagi perjalanan yang sudah melewati dua minggu. Kami sudah jauh dari desa tempat tinggalku, sehingga ingin rasanya aku segera pulang, namun aku tidak boleh pulang sebelum menemukan ayah dan aku harus bisa membawa ayah pulang bersama kita, tapi dimanakah ayah berada ?
Waktu terasa terus berputar mengiringi kami merantau mencari seseorang yang telah sekian lama menghilang, namun masih belum juga kami temukan. Ya….Allah tolonglah hambamu ini, agar Engkau mempertemukan kembali hamba dengan ayah hamba, tolonglah ya….Allah berijalan keluar untuk bisa mencari ayah dengan mudah dan berikanlah petunjuk-MU tentang keberadaan ayah sekarang, ya…Allah tolonglah hambamu yang hina ini, karena hanya Engkaulah yang dapat membantu hamba untuk bisa bertemu kembali dengan ayah. Amien ya Robbal ‘alamin.
Keesokan harinya, kami mulai berjalan disebuah tempat yang jarang sekali kami lihat manusia, akan tetapi banyak hewan-hewan liar yang tinggal ditempat itu melihat kedatangan kami berdua. Kemudian kami terus melangkahkan kaki dan tidak menghiraukan perhatian hewan-hewan tersebut, sehingga membuatnya tersinggung dan mengejar-ngejar hingga kami berdua kelelahan, setelah itu al-hamdulillah Allah telah menyelamatkan kami dari kejaran hewan-hewan liar itu.
Perjalanan kami sudah hampir satu bulan, namun semangat ibu dan aku tetap memuncak, meskipun bekal yang kami bawa sudah tinggal satu hari lagi. Selanjutnya ibunda melihat ada sebuah gua didekat pohon wringin yang sangat besar, ibunda mengajak aku untuk mencoba masuk kegua tersebut, takut didalam ada penghuninya dan siapa tahu penghuninya itu adalah ayahmu nak ! Kata ibunda kepadaku. Kemudian kucoba turuti perintah Bunda karena aku yakin sekali, kalau perkataan bunda itu pasti kenyataan. Akhirnya aku sudah memasuki gua itu, sedangkan bunda menunggu diluar. Setelah aku memasuki gua itu, aku merasa ketakutan karena didalam gua itu banyak penunggunya, namun ketika hati kecilku ingat kepada Allah, perasaan takutku sudah mulai hilang dan kuteruskan langkahku menuju kesebuah kamar didalam gua itu, kemudian kulihat ada seorang laki-laki yang sudah tua menahan sebuah penderitaan, akhirnya kuhampiri laki-laki itu dengan perasaan yang penuh harapan. Setelah itu dugaan ibu benar, laki-laki itu adalah ayahku yang s’lama ini aku cari-cari. Namun sayang ayah kehilangan ingatan, tapi meskipun ayah seperti itu aku harus mempertemukannya dengan ibu, siapa tahu setelah melihat ibu ayah ingat kembali”. Kata aku dalam hati. Kemudian aku membawa ayah keluar dalam keadaan yang tak berdaya, sehingga sangat sulit rasanya untuk membawanya keluar, tapi aku harus bisa bawa ayah keluar demi kebahagiaan bunda. Setelah itu tak lupa kumemohon pertolongan kepada Allah, untuk bisa membawa ayah keluar. Rupanya Allah telah mengabulkan permintaanku, sehingga aku bisa membawa ayah keluar dengan mudah.
Setelah aku membawa ayah keluar, aku langsung panggil ibu yang dari tadi telah menunggu dengan menyimpan banyak harapan. Setelah ibu menoleh kepadaku. Dan ketika melihat ada orang didekatku, secara spontan ibu lansung bersimpuh sambil mengangkat kedua tangannya untuk berterimakasih kepada Allah yang telah mempertemukannya dengan sang suami, sehingga membuat ibunda meneteskan air mata kebahagiaan. Lalu ibu langsung mendekati ayah. Kemudian keajaiban terjadi ketika ibu dan ayah saling menatap, membuat ayah sudah ingat kembali kepada ibu dan aku, sehingga kami bertiga saling berpelukan dengan penuh kebahagiaan. Tidak bisa aku bayangkan kebahagiaan ini ibarat diriku seperti tidak pernah merasakan penderitaan.
Dari kebahagiaan itulah, kumenulis sebuah puisi, sebagai memory penutup dari perjalananku, sekaligus sebagai rasa keberhasilanku untuk bertemu dengan ayah.
Kumulai melangkahkan kaki untuk menyendiri, merenungi sebuah kenyataan yang aku alami sekarang, kenyataan itu adalah sesuatu yang aku nilai sangat indah dalam hidupku, sehingga kenyataan tersebut menjadi sebuah puisi yang terdiri dari beberapa paragraph dan beberapa bait. Puisi itu telah aku susun rapi disebuah kertas, demi keawetannya.
Bunyi puisi terakhirku adalah:
Sekianlama air mata mengalir
Merasakan sebuah penderitaan
Yang s’lalu menghantui hidupku
Tajam bagaikan pedang
Panas bagaikan kobaran api
Dan licin bagaikan cermin
Tapi ……….
Kini penderitaan itu telah meleleh
Bagaiakan es yang kepanasan
Hingga habis tanpa tersisa
Ditelan oleh masa
Indah bagai kan bunga
Suci bagaikan warna putih
Manis bagaikan gula
Dan jernih bagaikan air embun
Semua itu yang telah aku rasakan saat ini
Sungguh tak terbayangkan
Dan akhirnya kami bertiga bersama untuk kembali, sehingga perjalanannya yang jauh tidak terasa jauh meskipun sebelumnya sudah makan waktu yang cukup lama.
Kemudian kami bertiga sudah menginjakkan kaki dikampung halaman, dan kulihat masyarakat banyak yang menyambut kedatangan kami bertiga dengan gembira. Sehingga aku merasa terharu dan salut terhadap mereka, dan ingin rasanya aku membahagiakan mereka sebagaimana mereka telah membahagiakan aku seperti kebahagiaan yang aku rasakan sekarang.
Kami sekeluarga sudah lama berkumpul, menciptakan kebahagiaan, kerukunan, dan keharmonisan serta kedamaian dalam sebuah bahtera keluarga. Aku bahagia sekali melihat sesuatu yang indah dalam keluargaku. Dan akhirnya kebahagiaan itu tetap berlanjut sampai pada masa cucuku.










