Ads 468x60px

Search Box

Featured Posts

Kamis, 09 Januari 2014

Rival dalam Sunyi, Merengguh cinta sejati

Puisi berantai dari pena sahabat

AA:
Sepi belum tentu kumati
Masih terdengar hirukpikuk bersahutan
Dalam relungan nafas sebuah titian sang mantan
Mendetak nadi dalam diri menanti penantian tiada henti

Tidak ada ekspersi
Hanya sebuah ilusi
Dalam penantian sunyi
Renungan malam sembunyi

AM:
Pun aku, terbelit rindu yang menyemak bayangnya
Gigil dan panas bermunajat dalam lisan

AA:
Munajatku belum ampuh tumbuh
Mengisi peti mati dalam diri
Hanya pasrah tanpa arah
Menuju sirat tak bertepi

AM:
Sirat tak bertepi
Tajam dan ngilu menyayat jiwa
Hanya ketenangan dan sabar
Setapak akhir tujuan terang terlihat

AA:
Masihkah lentera itu terlihat?
Harapan sudah memuncak
Pada pencak benteng tegak
Menuai rasa dalam mantra bina

AM:
Ya, akan terlihat nyata
Saat putaran waktu tepat dalam sumbu takdirnya
di sanalah putaran berjalan kembali dan akan terus seperti itu
hingga waktu terhenti menyibak suara sangkakala.

AA:
Tak mampu kiranya kudengar suara sangkakala itu
Dalam qalbu masih penuh titik hitam nodai setiap kesucian
Diam,
Hanya Diam
Membisu
Tanpa nada dalam lagu

AM:
Titik hitam akan luruh,
Ketika hati merepas nafsu hitam
Disaat itu,
Tak ada kawan atau lawan
Susu atau airmata atau tertawa hingga keluar liur lidah
Yang tersisa hanya keringat setinggi mulut
Setangkup sabar yang dulu khidmat kita dzikirkan
: luruhkan panas dan banjir airmata

PNA:
gelapnya hanya karena sang kekasih telah pergi
ataukah...
sang qalbu suram karena ternoda dosa
dan...
haruskah kau menyendiri
hanya karena menunggu penantian sunyi

AA:
Memang...!!!
Saat ini, kamus suci sudah kupelajari
Menata kepingan sabar
Dengan ketajaman alif yang berlapis
Namun,
Belum juga kutemukan lentera yang sebenanrnya harus kutemukan
hingga titik hitam itu mengancam
Dalam balutan dendam sang anak Adam

AM:
Tariklah Sang Putri lembut dalam pilumu
tentu kau lihat secercah sungging dalam netra yang elang
lalu pingit ia dalam peluk,
lirihkan lirik alif bersambung---hingga ijab dan kabul.

PNA:
bukan...
bukan pelita itu tak ada
namun,
kau tidak menyadarinya
pelita itu sangatlah begitu nyata
hanya kau yang tak mampu mengungkapkannya

AA:
Masih,
Masih belum mengerti tentang alif
Dalam kobaran nafsu tidak bisa melirik
Hanya iqlab yang mampu berbuat
Pada ba' sendiri memandang Mim yang telah mati

Hingga,
Hingga terasa pelita itu menyapa
Ketika sang Tanwin Berlari
Mendaki cinta dalam kobaran api asmara

AM:
Bukanlah abang tak mampu tunjukkan epolet rindu
Bukanlah alif tak mampu bersanding dengan ba' atau mim
Tetapi telisik sifat suratan takdir belum menyatu
menunggu huruf waw yang mengikat huruf-huruf suci itu

AA:
Eits...!!
Jangan salah
Jangan lupain daku si Nun
Ba' dan Mim bersatu melewati jembatan Nun
Melawan terjangan duri makhorij alif
Tanpa nyawa belum bisa memilukan duka

AM:
Alif date a, alif doma' u,
Ikatan tak lepas---rekat erat
Tolong rangkaikan alif dan nun hingga terengkuh 'cinta'

AA:
Jalinan Cinta antara alif dan nun
Tak sesulit tancapkan paku pada kayu
Jika semua ada palu menopang di atas paku

Alif merasakan cinta masih belum bisa
Karena dia beku dalam diam mati surinya
Bantuan Syakal satusatunya
Mengantarkan alif berkepompong Hamzah
Demi meraih cinta pada setiap huruf nun salah satunya

Hingga menjadi AiNun dalam ejaannya.

Tergores tanpa sengaja dari pemanah pena sahabat
— Abung Alfarisy (AA) bersama Andi Maulana (AM) dan Putri Nurul Akhla (PNA)

Ngantuk

Oleh: Abung Alfarisy

Selimut akut
Obati Rasa takut
Pada nyamuk dan semut
Yang selalu membuat suasana ribut

Selimut akut
Hindari bekunya dari angin kalut
Pisahkan belaian mesra dari si manja yang suka manut
Tertutup tanpa kejelasan melumpuh bagai kayu yang berlumut

Selimut akut
Menjadi takut tanpa selimut
Akut selimut dalam selimut akut

Nina Bobok

Oleh: Abung Alfarisy

Nina... Bobok... Oh... Nina... Bobok...
Pajamkan mata dalam lautan derita
Biaskan luka dalam balutan Asmara
Manjakan telinga dari suara tak menggema
Relungkan asa penuhi irama tanpa nada

Nina... Bobok... Oh... Nina... Bobok...
Usapan mesra melemahkan raga
Ketika dunia mulai dusta akan dirinya
Bayang semu menjadi sampul diri
Penuh arti namun tidak pasti

Nina... Bobok... Oh... Nina... Bobok...
Gigitan nyamuk akan melahap
Tanpa sisa dalam sekejap
Buahkan rasa tak bisa diungkap
Dalam jiwa bermandikan kecap

Nina... Bobok... Oh... Nina... Bobok...
Menggubris jeritan ayam
Memanggil seolah ingin menikam
Hingga membuat mata ingin terus memejam
Mencium aroma kegalauan yang semakin tajam

Nina bobok pun mulai bisu
Ketika safina mimpi mulai menyatu
Dengan dermaga lelap dalam qalbu
Raga pun kian ikut diam tanpa lagu

AA, 17/11/13

Alif

Oleh: Abung Alfarisy

Tak berambut tanpa alas kaki


Berdiri tegak penuh arti
 

Di tegah rumput,
 

Tersenyum,
 

Menari-nari ikuti irama nadi

AA, Jum'at 08/11/13

Sebab Akibat

Oleh: Abung Alfarisy

Mata melirik halusnya awan ketika menangis, langit pecah merasakan derita yang mendalam, membuat suasana semakin mencekam. Namun tidak bagi Aldi, anak baru berusia 10 tahun malah kegirangan, ketika gemuruhnya air mata awan, membasahi mendungnya alam.

“Aldi, jangan sekali-kali kau melangkah,” cegah Ibu, melihat Aldi berusaha untuk berlari meninggalkan tempat yang disinggahi. Aldi hanya tersenyum dan seolah-olah berpikir untuk bisa kabur.
“Aldi...!!! masih saja bandel,” teriak sang Ibu, sembari berusaha mengejar Aldi, meskipun tidak berhasil dia buntuti.
“Ma’af Bu... Aldi hanya ingin mencoba,” jawabnya diikuti dengan langkah seribu, sambil melambai-lambaikan tangan, seperti pelari maraton yang sudah profesional.

***
Alam pun menjadi sunyi, langit sudah tidak lagi bersedih, sehingga awan ikut berhenti menangis. Kemudian Aldi kembali pulang dalam keadaan penuh noda, menjadi sampul pada tubuh mungilnya. Langkah demi langkah Aldi lakukan dengan sangat hati-hati, mengingat sang Ibu takut memarahinya lagi.
“Nah aman,” Gumamnya penuh percaya diri.
“Ups, ada Ibu” tambahnya ketika mendengar suara langkah kaki, menuju tempat dia sembunyi.

Berdiri dengan rasa was-was, menuai berbagai kegelisahan, dalam balutan busana yang semakin transparan. Aldi terpejam, seolah-olah tidak siap menerima kenyataan yang akan dihadapinya. Suara langkah kaki itu semakin mendekat, mendekat dan ...

“Waduh, ada yang ketinggalan,” ucap ibu, kemudian kembali menuju ke kamarnya.
“Aaah lega, hampir saja ketahuan,” bisiknya sembari mengelus dadanya.
Aldi pun segera mempercepat langkahnya, menuju kamar mandi untuk membersihkan noda-noda, yang menempel pada dirinya.

***
Dalam kamar, Aldi ditemani sang Ibu, hanya bisa berbaring lemas, merasakan meriang yang sedang menyerangnya. Alam pun kembali mendung, membuat langit merasa sedih kembali, sehingga awan ikut mengeluarkan air matanya lagi.
“Aldi...,” bisik Ibu
Aldi hanya bisa menatap, sebagai rasa bersalahnya kepada sang Ibu.
“Tuh, di luar, Pohon-pohon berpesta, kodok-kodok pun juga ikut bernyanyi riang gembira, apakah kamu tidak ingin bergabung dengannya?” Tanya Ibu, seolah menyindir terhadap tingkah laku Aldi waktu itu . Aldi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata: “Tidak Bu, Aldi tidak ingin mencobanya lagi.”
Mendengar perkataan Aldi, sang Ibu mencium dan memeluk erat buah hatinya.
“Cepat sembuh ya sayang.”

Ingin Berbisah

Oleh: Abung Alfarisy

Bila sudah terlanjur cinta, tidak akan pernah mau melepaskannya. Bila terpaksa berpisah, tidak akan pernah rela untuk melakukannya. Cinta telah membutakan semua. Bahkan dengan cinta membuat diriku bermata abu-abu terhadap Nuril, Dialah yg selama ini telah mengisi kekosongan hatiku. akan tetapi cintaku padanya hanya pengisi kegalauanku. Ketulusan cintaku padanya hanya sebuah simbol persahabatan semata. Tanpa ada belang-belang zebra hatiku mulai berani mengungkapkan keseriusanku untuk berpisah dengannya.

***
“Nuril, Abang mau bilang sesuatu?” pintaku
“Silahkan saja Bang, Nuril akan mejadi pendengar setia buat Abang,” jawabnya sembari tersenyum manis.
“Serius nih, tapi Nuril jangan marah ya?” tambahku seraya memantapkan keyakinan, bahwa pacarku Nuril benar benar siap menerimanya.
“Selagi Abang tidak menyakitiku, Nuril selalu tersenyum untuk Abang”. Nuril pun menatapku dengan tatapan penuh harapan.
“Dengarkan baik-baik, Abang harap Nuril menerima keputusan Abang,” kataku pelan penuh kehati-hatian.
Nuril mengangguk, sebagai tanda setuju. Aku pun mulai menjelaskan inti dari yang kumaksud.

***
“Hubungan kita sudah mulai memasuki angka 3, dengan begitu, aku berkeinginan memutuskan untuk berpisah.”
Mendengar kata-kata berpisah, wajahnya berubah suram, sedih, dan linangan air mata menodai kecantikannya.

“Hiks’...Hik’s....Hik’s..., tega-teganya kaukhianati Nuril Bang, apa salah Nuril?”
“Nuril tidak punya salah, salahnya Nuril hanya negatif thinking pada Abang” ucapku seraya menghibur Nuril.
“Maksudnya?” tanya Nuril penasaran.
“Abang putusin untuk berpisah itu, maksudnya adalah, Abang pengen berpisah dengan Kegalaun, berpisah dengan simbol persahabatan, yang selama ini Abang tanam untuk Nuril, Abang juga ingin berpisah dengan kekosongan hati, dan Abang berharap, Nuril akan memenuhi isi hati Abang yang kosong ini.”
Mendengar kata-kataku, senyum di wajah Nuril mulai tercipta. Matanya pun sudah menimbulkan bening-bening kebahagian yang sempat hilang sejenak karena merasa kecewa.

“Ada satu lagi yang Abang ingin bilang” tambahku, sambil menatap tajam mata Nuril yang menyimpan ribuan harapan.
“Apa itu Bang?” tanya Nuril Penasaran.
“Abang ingin menghapus warna abu-abu yang sempat mewarnai hubungan kita,” jawabku penuh dengan keyakinan.
“Maksudnya?” Nuril Pun tambah penasaran.
Dengan penuh keberanian aku bilang: “Abang ingin menikahimu”.

Nuril bahagia mendengarnya.

Tanpa Judul

Oleh: Abung Alfarisy

Duduk santai di taman belakang rumah, sembari mendengarkan musik dari Handphone
“Ups.. gelap”
“siapa ini?”
“Jangan main dari belakang donk,” ucapku panik
Tangan itu masih menutup mataku, tanpa suara dan dengan kuat menghalangi pandanganku.

***
Kucoba merabanya, menelusuri hingga benar-benar tahu, siapa yang berusaha menutup mataku. Sesaat terdengar cekikan usil, seolah menertawakan kepanikanku. Aku tambah jengkel dan marah, kemudian kucubit tangan tersebut, hingga terdengar sebuah jeritan.
“Aaauuuu, sakiiit,”
Suaranya tidak asing bagiku, dan berusaha menoleh ke belakang dan ternyata ..
“Yaa Ampun, Roni sejak kapan ada di sini?” tanyaku heran, melihat kekasih lama yang selalu aku rindukan. Dalam senyum dan tawanya, yang membuat diriku pernah merasakan cinta dan kasih sayangnya.
“Aku sudah lama kok, ada di sini,” jawabnya dengan hiasan senyum mesra di wajahnya.
“Kenapa tidak bilang,” ucapku kesel.
“Memang sengaja, pengen ngasih kejutan,” sahutnya sembari tertawa manis, diikuti tatapan penuh ramuan penawar rindu, yang selama ini terpendam dalam diri.
“Husst....!!”
Kualihkan tatapannya, supaya tidak berkelanjutan.
“Ran, aku benar-benar kangen dengan masa indah bersamamu” mendengar kata-kata itu, membuatku ingin menenggelamkan wajahku yang tersipu malu. Mulutku seakan terkunci tidak bisa berucap, hanya senyuman yang menjawab semua ungkapan, yang dilontarkan oleh Roni.
“Hubungan kita tanpa judul, tahu-tahu kita sudah terpisah,” ucapnya.
“Rasa kangen kita juga tanpa judul, tiba-tiba sudah terobati dengan pertemuan ini,” tambahku mencairkan suasana yang sempat tegang, karena sebuah pandangan. Kami pun tertawa menikmati pertemuan ini, yang sempat hilang beberapa tahun silam.

"Jangan kita membina hubungan, tanpa judul lagi ya?" tambahku meyakinkan Roni. Dia hanya tersenyum, dan mengedipkan mata penuh dengan sandi, yang harus aku fahami.