Ads 468x60px

Search Box

Selasa, 20 September 2011

Skripsi Bahasa Dan Sastra Arab

ABSTRAK
الموضوع:
ظواهر نرجسية في مسرحية "مسمار جحا" لعلي أحمد باكثير
(دراسة آدبية نفسية)
 Fenomena Narsisisme dalam Sebuah Drama “Mismaaru Juhaa” Karya Ali Ahmad Baktsir
(Kajian Psikologi Sastra)

Kisah “Mismaaru Juhaa” merupakan sebuah kisah yang menggambarkan tentang gerakan revolusi di sebuah kehidupan di kota Kufah (Irak). Kota tersebut  dipimpin oleh seorang penguasa dhalim yang berada dibawah kendali kekuatan dari Negara Asing.  Seni perlawanan yang dipraktekkan oleh Syaikh Juha dan Pengikutnya adalah dengan membuat sandi yang berupa Mismaar (Paku). Gerakan revolusi diungkapkan dengan cara yang lucu melalui Khutbah (Ceramah) yang dilakukan oleh tokoh Juha, akan tetapi, lelucon tersebut banyak mengandung sindiran-sindiran terhadap sang penguasa asing. Sehingga pada akhirnya sang penguasa asing berhasil diturunkan dari jabatannya.
Dalam perjalanan cerita drama Mismaaru Juhaa, terdapat beberapa karakter unik yang bersifat Narsis (Cinta Diri), sehingga hal ini memberikan inspirasi bagi penulis untuk meneliti drama tersebut menggunakan teori Narsisisme. Oleh Karena itu, sesuai dengan teori dan Objek yang Penulis ambil, akhirnya dapat menghasilkan sebuah Penelitian dengan judul “Fenomena Narsisisme dalam Sebuah Drama Mismaaru Juhaa Karya Ali Ahmad Baktsir (Kajian Psikologi Sastra).
Sedangkan Fokus permasalahan yang dikemukakan dalam pembahasan  ini adalah: 1). Apa yang dimaksud dengan Drama Mismaaru Juhaa?. 2). Apa yang dimaksud dengan Fenomena Narsisisme dalam drama Mismaaru Juhaa?. 3) Bagaimana pentingnya menganalisis Psikologi sastra terhadap fenomena Narsisisme dalam drama Mismaaru Juhaa?. Maka dari itu, Pada pembahasan ini penulis menggunakan salah satu drama karya Ali Ahmad Baktsir yang berjudul Mismaaru Juha sebagai objek pembahasan dan kajian Psikologi Sastra sebagai alat analisa. Selain itu penulis menggunakan beberapa metode yang meliputi pengambilan data secara langsung dan tidak langsung, kemudian penulis mengambil kesimpulan serta mengungkapkan data dalam bentuk Metode Induktif dan Metode Deduktif.
 Hasil analisis yang sudah penulis lakukan adalah bahwa dalam drama ”Mismaaru Juhaa” terdapat Tiga kategori Narsis, pertama Narsisisme Libidinal (berkaitan dengan libido) yang meliputi emosi, Rasa Cinta, serta keinginan, kedua Narsisisme Destruktif (bersifat Merusak) yang meliputi Ancaman, kekejaman, penganiayaan, ejekan, kutukan, paksaan, serta hasutan, dan ketiga adalah Narsisisme Sehat yang meliputi Optimisme, Humoris, Tidak ceroboh, keyakinan, keberanian, serta teguh pendirian. Ketiga kategori Narsisisme tersebut merupakan bagian dari Karakter yang sudah penulis temukan pada tokoh-tokoh drama Mismaaru juhaa.

Selasa, 26 April 2011

Pertemuan Mengaharukan

Oleh: Abung eL-Farisy aL-Manduri



Awan  mendung  mewarnai  alam, hingga  suasana  menjadi  gelap  mengiringi  aku dan  ibunda  pergi  merantau.  Menembus  gelapnya  kegelapan,  menyebrangi  rintikan–rintikan  hujan,  dan  melawan  hembusan  angin  kencang.  Kami  berdua  tetap  saja  merantau,  untuk  bertemu  dengan  salah  seorang  yang  s’lama  ini  aku  rindukan.  Tak  ada  lain  orang  itu  adalah  Ayahanda  tercinta,  yang  hilang  bagai  ditelan  bumi.
Disa’at  petir  menyambar,  dan  bumi  mengamuk  hingga  banyak  pepohonan  jatuh  dan  runtuh.  Namun  semua  itu  tidak  akan  bisa  mematahkan  semangat  kita  berdua.  Sehingga  Aku  dan  Ibunda  tetap meneruskan   perjalanan  tanpa  mengenal  keadaan  yang  semakin  mengganas

      
Dikeluargaku hanyalah  tinggal  aku dengan  Ibunda.  Karena  ayah  sudah  lama  meninggalkan  kami  berdua.  Sehingga  sedih  rasanya  jikalau  dalam  sebuah  keluarga  kehilangan  seseorang  yang  dicintai,  Ayah  pergi  tanpa  alasan  yang  jelas,  Beliau  Cuma  bilang  untuk  pergi  dalam  jangka  waktu  tujuh  hari,  sehingga kemudaian  kepergiannya  melebihi  waktu  yang  telah  dijanjikan,  bahkan  sudah sampai  tiga  bulan  beliau  belum  juga  kembali.  Bersamaan  dengan  peristiwa  itu,  Ibunda  jatuh  sakit  sehingga  membuat  diriku  semakin  sedih  dan  hari-hariku  selalu  digeluti  deraian  air  mata.  Aku  tidak  tega  mendengar  rintihan-rintihan  ibu  yang  selalu  menyebut-nyebut  nama  ayah.  Dan  seharusnya  apa  yang  harus  aku  lakukan  untuk  bisa  membahagiakan  ibu?               
Setelah  dua  minggu  berlalu,  ada  salah  seorang  tetangga  memberi  kabar  kepadaku,  bahwasanya  dia  pernah  bertemu  dengan  seorang  laki-laki  yang  memiliki  ciri  persis  seperti  ciri  Ayahku.  Laki-laki  itu  katanya  tinggal  disebuah  tempat  yang  jauh  dan  sepi  dari  penduduk,  sehingga  dia  selalu  pergi   kepasar  desa  ini  untuk  mencari  bekal  hidupnya.  Setelah  itu  aku  beranggapan  bahwa  laki-laki  itu  adalah  Ayahku.
Untuk  membuktikan  kebenaran  berita  yang  didapat  dari  tetanggaku,  Aku  punya  rencana untuk  merantau  sambil  mencari  ayah mulai  besok  dan  rencananya  aku  pergi  sendirian,  akan  tetapi  ibunda  ingin  ikut  merantau  juga,  Aku  khawatir,  takut  terjadi  apa-apa  pada  diri  Ibu,  karena  beliau  masih  dalam  keadaan  sakit, sehingga  aku  melarangnya  untuk  ikut.  Namun  keinginan  Ibu  sangat  kuat  meskipun  sudah  saya  bujuk  Beliau  untuk  tidak  ikut.  Sebagai seorang  anak,  aku  tidak  enak  sendiri  menolak  keinginan  sangIbu,  meskipun  kondisi  ibu  tidak  baik.   Sehingga  aku  terpaksa  menerima  permintaan  Ibu.
Keesokan  harinya  Aku  dan  ibu  mulai  berangkat  untuk  merantau  sambil  mencari  ayah,  kemudian  aku  menitipkan  rumah  ketetangga  dekatku  dan  al-hamdulillah  dia  sanggup  menjaganya,  setelah  itu  aku  dan  ibunda  mulai  melangkahkan  kaki  meninggalkan  desa  kelahiranku  dengan  bekal  yang  insya  Allah  cukup  untuk  kami  berdua  selama  kami  berada  dalam  perjalanan.
Dua  hari  sudah  kami  lewati.  Namun  tidak  ada  tanda-tanda  tentang  keberadaan  Ayah,  akan  tetapi  semangat  kami  untuk  mencari  Ayah  tetap  teguh  dan  kokoh  sehingga  kami  terus  melanjutkan  perjalanan  walaupun  banyak  rintangan  dan  tantangan  yang  menimpa  kami  berdua.
Ketika  perjalanan  kami  sudah  makan  waktu  satu  minggu,  Ibunda  mengeluh  dan  menyuruh  aku  untuk  mencari  tempat  istirahat,  karena  beliau  sudah  tidak  kuat  lagi  untuk  melanjutkan  perjalanan.  Dan  akhirnya aku  berusaha  untuk  mencarinya  sebab  aku  tidak  tega  mendengar  keluhan  yang  terucap  dari  lisan  bunda.  Dan  ternyata  Al-hamdulillah  aku  menemukan  tempat  yang  kami  harapkan.
Setelah  kami  menempati  tempat  itu,  Ibunda  langsung  merebahkan  tubuhnya  diatas  tempat  yang  terbuat  dari  bambu-bambu  yang  sudah  dipotong-potong  menjadi  sebuah  tempat  tidur  untuk  menghilangkan  lelah,  yang  sudah  terkuras  sebelumnya.
Sebentar  kemudian,  ibu  telah  nyenyak  dari  tidurnya,  bersamaan dengan  itu  kudengar  alam  mulai  batuk,  bertanda  akan  turun  hujan,  sehingga  sedikit  demi  sedikit  setetes  air  hujan  jatuh  diatas  keningku,  Aku  mulai  melindungi  diri  dari  jatuhnya  air  yang  semakin  deras.  Selain  itu  angin  sudah  mulai  mengipas  dirinya dengan  kencang,  hingga  membuat  diriku  tak  mampu  menghindarinya.  Ketika  itu  juga  sambaran  petir  juga  menghantui  malam  ini  dan  membuat  semua  isi  alam  gemetar  ketakutan.
Bercermin  dari  peristiwa  ini,  Aku  renungi,  hayati  dan  mengabadikan  kedalam  sebuah  syair  untuk  dijadikan  memory  dalam  hidupku,  karena  selama  aku  hidup  tidak  pernah  merasakan  peristiwa  yang  saya  rasakan  saat  ini  .Kumulai  merangkai  kata  demi  kata  sehingga  membentuk  sebuah  puisi  yang  aku  alami  sekarang.
Malam  tiada  bunyi
Hembusan angin tiada henti
Hujan deras dengan petir yang menyambar
Sungguh malam yang menakutkan……….
Malam yang membuat alam berantakan
Malam yang banyak merugikan insan
Sungguh malam yang menakutkan ……….
Malam yang disertai angin kencang
Yang membuat bumi terasa bergoncang
Sungguh malam yang menakutkan ………..
Disertai hujan dan petir yang menyambar
Yang membuat semua orang ketakutan
Sungguh malam yang sangat menakutkan…
Setelah  itu,  lamunanku  ketika  membuat  sebuah  puisi  dikejutkan  oleh  rintihan  ibu,  sehingga  aku  mendekatinya  dan  menyuruh  bunda  untuk  tidur  kembali  dan  akhirnya  bunda  melanjutkan  kembali  tidurnya  sampai-sampai  membuat  diriku  untuk  ikut  tidur  dibawah  lapu  bulan  punama  bersama  ibunda.
Ketika  pagi  sudah  tiba,  matahari  mulai  menampakkan  dirinya,  dengan  cahaya  dan  sinar  yang  ia  miliki.  Dan  kudengar  burung-burung  bernyanyi  dengan  riang,  menyambut  datangnya  pagi  yang  cerah.  Selain  itu  air  embun  yang  s’lalu  membuat  suasana  pagi  menjadi  lebih  segar  ditambah  lagi  dengan  sepoian  angin  pagi  yang  dapat  merasakan  kelembutan  dipagi  hari.  Dan  kemudian  aku  juga  mendengar  kokokan  ayam  jantan  yang  dengan  setianya  membangunkan  aku  dari  tidur  malamku.  sehingga  membuat  diriku  merasakan  keindahan  yang  tersirat  dipagi  hari.  Ketika  itu  juga,  pagi  yang  tadinya  cerah  telah  dicemari  oleh  rintikan-rintikan  hujan,  tetapi  meskipun  demikian  matahari  tetap  menampakkan  dirinya,  sehingga  ia  dapat  mengalahkan  rintikan-rintikan  hujan  untuk  berjatuhan  kembali.  Namun  tiba-tiba  kulihat  pelangi  muncul  dengan  keindahan  warnanya  yang  berfariasi  menambah  indahnya  suasana  dipagi  hari.
Dari  keindahan  pagi  yang  aku  rasakan,  membuat  tanganku  untuk  menulis  sebuah  puisi  kembali  sebagai  memory  yang  kedua  dalam  perjalananku.  Sehingga  kesedihan  yang  aku  alami  sekarang  dibuatnya  tidak  terasa  oleh  keindahan   alam  sa’at  ini.  


Sayup-sayup angin pagi
Dengan embun yang membasahi
Disertai mentari pagi
Menghiasi alam ini

Rintik-rintik air hujan
Membasahi dedaunan
Memberi kesan yang menyenangkan
Bagi setiap insan

Sepi-sepi air hujan
Hingga timbul sinar yang terang
Dengan pelangi yang bersinar
Menghiasi keindahan alam

Kemudian  setelah  itu  kami  bersiap-siap  untuk  melanjutkan  kembali  perjalanan  yang  sudah  makan  waktu  hampir  dua  minggu.  Kami  berdua  akhirnya  sampai  ditempat  yang  sepi  dan  jauh  dari  penduduk,  sehingga  kami  menemukan  sebuah  gubuk  yang  kelihatannya  tidak  ada  penghuninya,  akan  tetapi  hati kecilku  mengajak  untuk  pergi  kegubuk  tersebut  dan  ternyata  kumelihat  ada  seorang  laki-laki  yang  tidak  berdaya  sedang  berbaring  lemas  diatas  beberapa  daun  pisang,  Aku  yakin  bahwa  orang  itu  adalah  ayahanda  yang  s’lama  ini  aku  rindukan,  dan  kemudian  aku  dan  ibu  menghampiri  laki-laki  itu,  akan  tetapi  apalah  yang  terjadi,  orang  itu  bukanlah  ayah  yang  sedang  aku  cari,  bahkan  dia  adalah  orang  gila  yang  tidak  tahu  apa-apa.  Melihat  semua  itu  aku  dan  ibunda   kecewa  karena  yang  kami  lihat  bukan  ayah,  kemudian  bunda  menyuruh  aku  untuk  melanjutkan  perjalanan.
Keesokan  harinya  aku  dan  bunda  melanjutkan  perjalanan  dengan  bekal  yang  kami  bawa  tinggal  sedikit,  sehingga  kami  menghemat  bekal  tersebut  agar  tidak  cepat  habis.  Namun  al-hamdulillah  Allah  telah  memberikan  rizki  pada  kami  berupa  makanan  yang  kami  temukan  pas  dihadapan  ku.  Dan  akhirnya  aku  mengambil  makanan  itu  untuk  membantu  kami  melanjutkan  perjalanan.
Setelah  kami  menikmati  makanan  tersebut,  kami  melanjutkan  lagi  perjalanan  yang  sudah  melewati  dua  minggu.  Kami  sudah  jauh  dari  desa  tempat  tinggalku,  sehingga  ingin  rasanya  aku  segera  pulang,  namun  aku  tidak  boleh  pulang  sebelum  menemukan  ayah  dan  aku  harus  bisa  membawa  ayah  pulang  bersama  kita,  tapi  dimanakah  ayah  berada ?
Waktu  terasa  terus  berputar  mengiringi  kami  merantau  mencari  seseorang  yang  telah  sekian  lama  menghilang,  namun  masih  belum  juga  kami  temukan.  Ya….Allah  tolonglah  hambamu  ini, agar  Engkau  mempertemukan  kembali  hamba  dengan  ayah  hamba,  tolonglah  ya….Allah  berijalan  keluar  untuk  bisa  mencari  ayah  dengan  mudah  dan  berikanlah  petunjuk-MU  tentang  keberadaan  ayah  sekarang,  ya…Allah  tolonglah  hambamu  yang  hina  ini,  karena  hanya  Engkaulah  yang  dapat  membantu  hamba  untuk  bisa  bertemu  kembali  dengan  ayah.  Amien  ya  Robbal  ‘alamin.
Keesokan  harinya,  kami  mulai  berjalan  disebuah  tempat  yang  jarang  sekali  kami  lihat  manusia,  akan  tetapi  banyak  hewan-hewan  liar  yang  tinggal  ditempat  itu  melihat  kedatangan  kami  berdua.  Kemudian  kami  terus  melangkahkan  kaki  dan  tidak  menghiraukan  perhatian  hewan-hewan  tersebut,  sehingga  membuatnya  tersinggung  dan  mengejar-ngejar  hingga  kami  berdua  kelelahan,  setelah  itu  al-hamdulillah  Allah  telah  menyelamatkan  kami  dari  kejaran  hewan-hewan  liar  itu.
Perjalanan  kami  sudah  hampir  satu  bulan,  namun  semangat  ibu  dan  aku  tetap  memuncak,  meskipun  bekal  yang  kami  bawa  sudah  tinggal  satu  hari  lagi.  Selanjutnya  ibunda  melihat  ada  sebuah  gua  didekat  pohon  wringin  yang  sangat  besar,  ibunda  mengajak  aku  untuk  mencoba  masuk  kegua  tersebut,  takut  didalam  ada  penghuninya  dan  siapa  tahu  penghuninya  itu  adalah  ayahmu  nak !  Kata  ibunda  kepadaku.  Kemudian  kucoba  turuti  perintah  Bunda  karena  aku  yakin  sekali,  kalau  perkataan  bunda  itu  pasti  kenyataan.  Akhirnya  aku  sudah  memasuki  gua  itu,  sedangkan  bunda  menunggu  diluar.  Setelah  aku  memasuki  gua  itu,  aku  merasa  ketakutan  karena  didalam  gua  itu  banyak  penunggunya,  namun  ketika  hati  kecilku  ingat  kepada  Allah,  perasaan  takutku  sudah  mulai  hilang  dan  kuteruskan  langkahku  menuju  kesebuah  kamar  didalam  gua  itu,  kemudian  kulihat  ada  seorang  laki-laki  yang  sudah  tua  menahan  sebuah  penderitaan,  akhirnya  kuhampiri  laki-laki itu  dengan  perasaan  yang  penuh  harapan.  Setelah  itu  dugaan  ibu  benar,  laki-laki  itu  adalah  ayahku  yang  s’lama  ini  aku  cari-cari.  Namun  sayang  ayah  kehilangan  ingatan,  tapi  meskipun  ayah  seperti  itu  aku  harus  mempertemukannya  dengan  ibu,  siapa  tahu  setelah  melihat  ibu  ayah  ingat  kembali”.  Kata  aku  dalam  hati.  Kemudian  aku  membawa  ayah  keluar  dalam  keadaan  yang  tak  berdaya,  sehingga  sangat  sulit  rasanya  untuk  membawanya  keluar,  tapi  aku  harus  bisa  bawa  ayah  keluar  demi  kebahagiaan  bunda.  Setelah  itu  tak  lupa  kumemohon  pertolongan  kepada  Allah,  untuk  bisa  membawa  ayah  keluar.  Rupanya  Allah  telah  mengabulkan  permintaanku,  sehingga  aku  bisa  membawa  ayah  keluar  dengan  mudah.
Setelah  aku  membawa  ayah  keluar,  aku  langsung  panggil  ibu  yang  dari  tadi  telah  menunggu  dengan  menyimpan  banyak  harapan.  Setelah  ibu  menoleh  kepadaku.  Dan  ketika  melihat  ada  orang  didekatku,  secara  spontan  ibu  lansung  bersimpuh  sambil  mengangkat  kedua  tangannya  untuk  berterimakasih  kepada  Allah  yang  telah  mempertemukannya  dengan  sang  suami,  sehingga  membuat  ibunda  meneteskan  air  mata  kebahagiaan.  Lalu  ibu  langsung  mendekati  ayah.  Kemudian  keajaiban  terjadi  ketika  ibu  dan  ayah  saling  menatap,  membuat  ayah  sudah  ingat  kembali  kepada  ibu  dan  aku,  sehingga  kami  bertiga  saling  berpelukan  dengan  penuh  kebahagiaan.  Tidak  bisa  aku  bayangkan  kebahagiaan  ini  ibarat  diriku  seperti  tidak  pernah  merasakan  penderitaan.
Dari  kebahagiaan  itulah,  kumenulis  sebuah  puisi,  sebagai  memory  penutup  dari  perjalananku,  sekaligus  sebagai  rasa  keberhasilanku  untuk  bertemu  dengan  ayah. 
Kumulai  melangkahkan  kaki  untuk  menyendiri,  merenungi  sebuah  kenyataan  yang  aku  alami  sekarang,  kenyataan  itu  adalah  sesuatu  yang  aku  nilai  sangat  indah  dalam  hidupku,  sehingga  kenyataan  tersebut  menjadi  sebuah  puisi  yang  terdiri  dari  beberapa  paragraph  dan  beberapa  bait.  Puisi  itu  telah  aku  susun  rapi  disebuah  kertas,  demi  keawetannya.
Bunyi  puisi  terakhirku  adalah:               

Sekianlama air mata  mengalir
Merasakan sebuah penderitaan
Yang s’lalu menghantui hidupku

Tajam bagaikan pedang
Panas bagaikan kobaran api
Dan licin bagaikan cermin

Tapi ……….

Kini penderitaan itu telah meleleh
Bagaiakan es yang kepanasan
Hingga habis tanpa tersisa
Ditelan oleh  masa

Indah bagai kan bunga
Suci bagaikan warna putih
Manis bagaikan gula
Dan jernih bagaikan air embun
Semua itu yang telah aku rasakan saat ini
Sungguh tak terbayangkan

Dan  akhirnya  kami  bertiga  bersama  untuk  kembali,  sehingga  perjalanannya   yang  jauh  tidak  terasa jauh  meskipun  sebelumnya  sudah  makan  waktu  yang  cukup  lama.
Kemudian  kami  bertiga  sudah  menginjakkan  kaki  dikampung  halaman,  dan  kulihat  masyarakat  banyak  yang  menyambut  kedatangan  kami  bertiga  dengan  gembira.  Sehingga  aku  merasa  terharu  dan  salut  terhadap  mereka,  dan  ingin  rasanya  aku  membahagiakan  mereka  sebagaimana  mereka  telah  membahagiakan  aku  seperti  kebahagiaan  yang  aku  rasakan  sekarang.
Kami  sekeluarga  sudah  lama  berkumpul,  menciptakan  kebahagiaan,  kerukunan,  dan  keharmonisan  serta  kedamaian  dalam  sebuah  bahtera  keluarga.  Aku  bahagia  sekali  melihat  sesuatu  yang  indah  dalam  keluargaku.  Dan  akhirnya  kebahagiaan  itu  tetap  berlanjut  sampai  pada masa  cucuku.

Sabtu, 23 April 2011

DERITA SEBUAH BANGSA

Oleh : Abung eL-Farisy al-Manduri

Melihat banyaknya kejadian yang menimpa bangsa Indonesia, Agus Purnomo membentuk sebuah komunitas peduli bangsa, berawal dari sebuah tekad yang kuat, modal yang sedikit, komunitas tersebut berkembang pesat dengan beranggotakan lebih dari seribu yang berasal dari segala penjuru di Indonesia.

Agus purnomo merupakan salah satu dari orang-orang yang terpinggirkan, dia hanya hidup sebatangkara di sebuah kubuk kecil di pinggiran kota, akan tetapi kepedulian agus terhadap Bangsa sangatlah menggunung, bahkan dia rela melakukan apa saja demi mempertahankan kesejahteraan bangsa.
Suatu ketika, Agus berjalan-jalan disebuah kota melihat aktifitas rakyat kecil yang mengais rezeki dan mengadu nasib di tengah-tengah kekejaman kota. Dia mengunjungi satu-persatu para pedagang kaki lima untuk menanyakan alasan, kenapa mereka bekerja di kota. Bermacam-macam alasan agus dapatkan dari lisan-lisan seseorang yang kehidupannya sangat membutuhkan sentuhan lembut dan perhatian khusus dari pemimpinnya.
Akan tetapi, di saat kemudian, terlihat beberapa mobil milik petugas satpol PP sedang menuju lokasi tempat rakyat kecil membuka usaha untuk mempertahankan hidupnya. Wajah-wajah ketakutan, pikiran mulai tidak karuan, itulah yang sedang dirasakan oleh para pedagang, mereka rela berjatuhan demi menyelamatkan barang-barangnya dan berusa melangkahkan kakinya dengan cepat menuju tempat yang lebih aman. Akan tetapi usaha mereka tetap tercium oleh para petugas yang hanya melaksakan perintah dari atasan tanpa memiliki rasa kemanusiaan terhadap para korban penertiban.
Jerit tangis menggemparkan suasana kota yang begitu mencekam, ketika barang-barang rakyat kecil dirampas dengan cara paksa oleh para petugas, bahkan yang sangat menyedihkan ketika peroses penertiban selesai, para petugas tidak pernah memikirkan adanya ganti rugi berupa sebuah tempat yang layak dibuat untuk membuka usaha. Mereka para PKL dilantarkan begitu saja, padahal mereka juga punya hak untuk mendapatkan semua itu. Apakah karena gara-gara  demi meraih piala adipura, hingga membuat rakyat kecil menderita?. Apakah dengan meraih piala adipura dapat memberikan kebahagiaan pada  rakyat kecil?. Itulah kelemahan bangsa ini dalam menerapkan sebuah peraturan.
Melihat kejadian itu, agus purnomo merasa negeri ini sudah pincang, yang dilindungi hanyalah orang-orang  berkantong tebal, sedangkan yang mengidap penyakit kangker (Kantong kering) malah di kucilkan dan tidak pernah di hiraukan.
Bersama komunitasnya, agus mulai bangkit dan mengajak para pedagang yang telah menjadi korban penertiban untuk bersama-sama membuka lembaran baru dengan menciptakan lapangan kerja, mulai dari kreasi membuat kerajinan tangan yang terbuat dari bahan-bahan bekas, hingga membuka sebuah depot sederhana dan semua modalnya mereka dapatkan dari usaha mereka sendiri sebelum menjadi korban penertiban.
Waktu terus berjalan tanpa henti, begitu pula kemajuan komunitas peduli bangsa kian hari kian memukau, bahkan sudah banyak rakyat kecil menanam benih-benih kesuksesan lewat komunitas yang didirikan oleh sang pemuda tangguh bernama agus purnomo. Kesuksesannya di komunitas ini, membuat agus tambah disegani banyak orang, akan tetapi pancaran sikap merakyatnya selalu menjadi sampul pada dirinya, kesombongan dan keangkuhan tidak akan berani mendekat apalagi menyentuh diri agus. Sikap santun dan kesederhanaannya selalu menjadi teman dalam kehidapan sehari-hari.   Karena itulah komunitas yang ia dirikan selalu eksis meskipun banyak jurang-jurang penghambat yang pernah menghantuinya.
Indonesia mulai bangga memiliki sosok Agus purnomo, meskipun sebenarnya Indonesia sangatlah menderita. Komunitas peduli bangsa merasa iba terhadap penderitaan yang sedang dialami bangsa. Para pejabat korupsi sudah tiadak asing lagi di Indonesia, penjara mewah dikalangan orang-orang yang berkantong tebal dan bahkan hingga mucul istilah baru di negeri ini yaitu MARKUS, entah apa yang menyebabkan Indonesia menderita seperti ini, apakah penderitaan ini akan berujung sebuah kematian?. Itulah salah satu keluhan agus terhadap kenyataan yang terjadi pada bangsa Indonesia.
Karena penderitaan bangsa Indonesia kian hari kian parah, agus mulai gelisah dan berencana mengadakan aksi protes terhadap pemerintah yang selalu terbelit-belit dalam menyelesaikan penderitaan yang diderita oleh bangsa ini. Bersama komunitasnya, dia kerahkan segala kekuatan untuk berhadapan dengan orang-orang yang menjadi kunci  atas kesembuhan bangsa. Semua persiapan sudah dipersiapkan sebelumnya, keluhan-keluhan yang harus disampaikan juga sudah terekam dan siap untuk disampaikan kepada sang pemimpin. Namun setelah kaki mereka menginjakkan halaman istana, ternyata sang pemimpin tidak ada di sana, entah ini disengaja atau tidak, tapi yang jelas semangat mereka untuk menyembuhkan penyakit bangsa terus mereka kerahkan.
Kegelapan malam selalu menyapanya tanpa henti dan Mataharipun selalu menampakkan sinarnya berulangkali, namun komunitas peduli bangsa belum bisa bertemu dengan sang pemimpin yang seharusnya mendengar keluh kesah dari mereka, karena sudah merasa tidak dipedulikan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan di negeri ini, maka semangat komunitas peduli bangsa sudah mulai luntur, akan tetapi mereka tetap memiliki benih-benih semangat baru, meskipun tidak mampu membantu menyembuhkan penderitaan bangsa melalui kekuatan fisik, namun mereka tetap peduli dengan sebuah lantunan do'a demi kebangkitan bangsa yang saat ini menahan derita yang begitu menyakitkan.
Dari semua perjalanan hidup Agus Purnomo disaat memikirkan penderitaan bangsa, dia kemudian merenungi dan menjadikannya dalam sebuah rangkaian kata-kata yang merupakan luapan isi hatinya ketika menghadapi cobaan yang diderita bangsa Indonesia
Indonesia
Aku bangga pada mu
Aku bangga menjadi bagian dari mu
Aku bangga…
Sungguh aku bangga

Dukungan tanpa ada rasa bangga
Bangga saja tanpa ada dukungan
Engkau akan cacat
Engakau akan pincang
Engkau akan merasakan perih menyakitkan

tangisanmu kan ku dengar selalu
Keluhanmu  kan ku rekam dalam memory ku

Aku mau engkau bangkit
Bangkit dalam keterpurukan
Bangkit dalam jurang gelap menakutkan
Bangkit demi meraih sinar yang terang

Engaku menjerit
Diri ini terasa sakit
Engkau histeris
Diri ini merasakan kepiluan yang mendalam

Kini ku berharap…
Tak lagi mendengar jeritanmu
Tak lagi mendengar tangisanmu

Karna ku yakin engkau akan tegar
Setegar symbol kebangsaan
GARUDA

             Akhirnya agus tetap menjadikan penderitaan bangsa sebagai impian belaka, karena dia yakin kalau bangsa Indonesia akan dapat mengatasai penderitaannya dengan kekuatan yang dimilikinya, Indonesia itu tegar, Indonesia itu penuh dengan darah semangat juang yang tinggi, Indonesia adalah Negara yang begitu sempurana dengan kekayaan yang tidak dimiliki oleh negra-negara lain. I love Indonesia    

Minggu, 03 April 2011

Bait Puisi


Surga MU Surga KU
oleh: Abung eL-farisy aL-Manduri
Indah menawan
Cantik rupawan

Kesejukan terpancar darimu
Jiwa melayang merasakan kebahagiaan
Bahagia menjadi bagian darimu
Bahagia menata hidup bersamamu

Kau menciptakan surga untukku
Kau membimbingku
Menuju shirat kebenaran

Kautelah membantuku
Menemukan titik terang dalam hidupku
Menghilangkan noda hitam dalam diriku
Membuka pintu kebahagiaan buat jiwaku

Kaugubuk suciku
Kautempat inspirasiku

Karenamu…
Ada surga dalam jiwaku
Surgamu adalah Surgaku

DI ATAS SAJADAH BUNDA

Oleh: Abung eL-farisy aL-Manduri



Pagi yang indah membuat seuasana semakin bergairah, tiupan angin yang lembut dengan kipasannya yang begitu halus dan ditambah lagi dengan atraksi paduan suara burung-burung hingga  membuat suasana pagi semakin indah dan ceria. Dengan suasana seperti itu, diri ini seakan-akan berada dalam lautan kebahagiaan meskipun dipagi itu juga aku lagi menunggu detik-detik menjelang pengumuman kelulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Goncangan jantungku semakin terasa, qolbu sudah mulai gelisah dan fikiran mulai tidak karuan, akan tetapi semua itu telah terobati oleh suasana pagi yang selama ini baru kurasakan keindahannya.
Pukul 06.30 WIB, kaki mulai melangkah menuju sekolah. Bersama teman-teman yang lain, ku hilangkan semua kehawatiran dengan canda tawa menjelang detik-detik kelulusan. Disaat bel berbunyi, jantung mulai bikin suasana semakin kacau, qolbu juga tidak kalah mengekspresikan dirinya dengan sebuah kehawatiran dan pikiran mulai memanas, tanpa terasa keringat dingin mulai membanjiri tubuhku hingga diriku selalu dihantui oleh kehawatiran tidak lulus bahkan optimis untuk lulus menipis dibuatnya. Untuk mereda rasa kehawatiranku, mulutku tiada henti melafadzkan kalimat-kalimat suci dengan harapan Allah memberikan yang terbaik buat diriku dan memberikan ketenangan dalam menjalani semua ini.
Kepala sekolah mulai memberikan sambutan, aku dan teman-teman tidak terlalu konsentrasi terhadap apa yang disampaikan oleh kepala sekolah. Pikiran ini hanya tertuju pada LULUS dan TIDAK. Pikiran semakin kacau ditambah lagi denyut jantung semakin kencang hingga tanpa disadari, kepala sekolah mulai memberikan gambaran tentang hasil ujian para muridnya, dan ternyata beliau menginformasikan bahwa ada sedikit masalah tentang hasil ujiannya. Mendengar hal itu, pikiran sudah tidak tahu arah dan jantung berdetak terasa semakin kencang bahkan qolbupun sudah tidak mengenali sebuah ketenangan, diri ini sudah tidak sanggup lagi menerima kenyataan ketika mengingat proses ujian berlangsung, dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan hingga menambah kehawatiran diriku untuk TIDAK LULUS semakin besar.
Kemudian satu persatu para murid diberi sebuah amplop berisi sebuah kertas yang didalamya terdapat sebuah keputusan hasil ujian yang sangat menegangkan. Ketika aplop itu berada digenggamanku, pikiran tambah kacau, detak jantung semakin kencang disertai keringat dingin yang membasahi seluruh pakaianku. Aku tidak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui kalau diriku TIDAK LULUS.
Kutenangkan pikiran dan tak lupa mulut mengeluarkan kata Istighfar, Aku harus yakin kalau aku LULUS. Setelah semuanya dapat amplop,  kepala sekolah memberi tahu kalau amplopnya dibuka bareng biar terasa kompak. Kemudian kepala sekolah menginstrusikan bahwa sebelum membuka diharapkan untuk membaca Basmalah bersama-sama agar apa yang kita harapkan dapat tercapai. Dengan serentak semua murid melafadzkan Bismillahirrohmanirrahim pelan-pelan kubuka amplop dengan tangan gemetar dan jantung berdetak kencang, setelah kubuka ternyata ALHAMDULILLAH  terimaksih ya Allah engkau telah meluluskan hamba, engkau telah membuat hamba benar-benar bahagia.
Setelah semuanya sudah terjawab, aku langsung melangkahkan kaki menuju gubuk kelahiranku dengan membawa sejuta kebahagiaan. Aku langsung memberi tahu bundaku kalau sang buah hatinya telah melewati masa-masa menjadi siswa dengan sempurna.
Keesokan harinya, dirumah mengadakan tasyakkuran kecil-kecilan dalam rangka mensyukuri kemurahan Allah pada Hambanya yang telah memudahkan seorang hamba dalam sebuah kehawatiran, hal ini tidak pernah lepas dari Do’a sang bunda hingga anaknya sukses menjalani masa-masa siswanya.
Alangkah besar jasa bunda pada diriku, namun aku sangat merasa iba melihat bunda yang selalu terpaut dalam kesedihan ketika mengingat masa-masa indah bersama Ayah. Ayah sudah lama meninggalkan kami, kepergian ayah meninggalkan sejuta kenangan indah dalam keluarga. Sejak ayah tiada, yang membiayai sekolah serta kebutuhanku adalah bunda. Bunda dalam kacamataku bukan hanya sosok perempuan yang sholihah, namun bunda adalah pahlawanku yang memiliki keinginan yang kuat untuk mensukseskan buah hatinya.
Aku adalah si bungsu dari empat bersaudara, semua saudara-saudaraku sudah menyelesaikan pendidikannya di S1, hanya tinggal akulah yang masih proses untuk menuju kejenjang yang lebih tinggi, ibuku banyak berharap kepadaku, karena akulah satu-satunya yang bisa diharapkan oleh Bunda.
Untuk mememenuhi permintaan bunda, aku mulai melangkah mancari informasi tentang perguruan tinggi, dan ternyata Alhamdulillah aku telah diterima di salah satu perguruan tinggi Negeri di Surabaya, meskipun hati ini terasa berat meninggalkan Bunda, Namun semuanya harus aku Ikhlashkan buat bunda juga.
Waktu kini berjalan tanpa henti mengiringi siang dan malam, hingga diriku terbawa kenikmatan dunia perkuliahan, namun aku masih merasakan ridu akan suara lembut dan senyum sang bunda, ku coba ambil air wudhu’ dan membaca kalam Ilahi yang bertujuan agar sang bunda dirumah oleh Allah selalu diberikan ke sehatan dan kebahagiaan.
Waktu terus berputar menuntun aku dalam menjalani perkuliahan. Tanpa terasa aku sudah dua bulan menikmati rantauan mencari ilmu dalam dunia perkuliahan. Aku rindu Bunda, aku rindu raut wajahnya yang membuat hati ini tentram, aku rindu suara bunda ketika membaca Kalam-kalam Allah, kapankah aku bisa ketemu bunda????
Keesokan harinya aku dapat telpon dari keluarga dirumah bahwasanya saat ini bunda kesehatannya mulai terganggu, keluarga dirumah memohon agar aku selalu senantiasa mendoakannya setiap selesai sholat, karena Do’a seorang Anak untuk ibunya sangatlah istijabah. Mendengar kabar dari keluarga dirumah qolbu selalu merasa bersalah, merasa sudah tidak dapat membahagiakan bunda, namun diri ini harus tidak selalu terbuai oleh rasa bersalah, karena bunda dirumah tidak membutuhkan sebuah penyesalan dari ku, yang beliau butuhkan saat ini adalah do’a dari ku. Ku langkahkan kaki menuju tempat wudhu’ kemudian setelah tubuhku bersih, ku mulai menghadap ilahirobbi, mengadu, meratapi semua masalah yang aku hadapi saat ini.

Ya Allah ya Robbi...
Engkaulah tempat hamba mengadu
Engkaulah tempat hamba memohon
Engkaulah tempat meluapkan isi hati hamba

Hanya kepada-Mulah Hamba meminta
Karena engkaulah
Maha Rahim Hamba
Maha Rahman Hamba
Maha Ghofur segala Noda-Noda hitam pada diri Hamba
Maha diatas segala maha

Hamba mohon
Tolong berikan yang terbaik buat ibu Hamba
Datangkanlah kebahagian padanya
Berikanlah kesehatan dan kesembuhan
Atas penyakit yang sedang dideritanya

Hamba mohon ya Allah...
Kabulkan lantunan do’a hambamu ini
Karena Engkaulah sang pengabul do’a
Karena Engkaulah sang pengabul segala keluh kesah seorang hamba
Karena Engkaulah maha penentu segalanya
Amin.....

            Setelah aku mengadu kepada sang pencipta, kemudian tanpa terasa mata sudah mulai memejamkan dirinya, mulut sudah terbuka merasakan kantuk yang tidak tertahankan, akhirnya diri ini terbawa alam bawah sadar dan menikmati kenikmatan bunga tidur yang menjadi teman dalam tidurku. Beberapa menit kemudian, HP ku berbunyi, setelah dilihat ternyata kakakku, aku kaget kok tumben kakak nelpon ditengah malam-malam begini, ada apakah gerangan???. Untuk mengobati rasa penasaranku ku coba angkat telponnya, ternyata ada suara tangisan yang membuat saya semakin penasaran. Dengan nada sedikit gemetar kakak bilang kalo Bunda sudah tiada, mendengar hal itu aku menjerit histeris untuk meluapkan rasa ketidak percayaanku akan kenyataan ini, aku tidak tahu apa yang harus ku perbuat untuk cepat-cepat menemui bunda. Tanpa cuci muka n masih mengenakan pakaian yang aku pakai saat tidur, aku langsung berangkat menuju Gubuk kelahiranku dalam kondisi qolbu yang teriris dan mata penuh dengan cairan. Aku tidak menyanggka ibuku akan minggalkan aku secepat ini.
            Setelah aku sampai dirumah, suasana duka menyelimuti ruang yang selama aku tinggalkan penuh dengan kebahagiaan, akan tetapi kini sudah berubah menjadi lautan air mata dan isak tangis yang menghiasinya. Ketika aku disana, bunda sudah terbungkus oleh kain kafan, tanpa henti air mata menetes melihat senyum manis bunda yang terbalut oleh kain kafan, diri ini masih belum percaya kalau yang tidur tanpa nafas adalah bunda.

Bunda...
Kenapa engkau tega meninggalkanku?
Kenapa engkau secepat ini meninggalkanku?
Kenapa engkau rela aku hidup sendiri?

Aku masih butuh bunda
Aku masih ingin bunda
Aku masih ingin bunda disampingku

Teriris hati ini
Tergores jiwa ini
Terluka batin ini

Air mata tidak mau berhenti
Qolbu semakin terhimpit
Nafas sudah tidak terkendali

Ingin rasanya diri ini ikut bunda
Ingin rasanya diri ini menemani bunda
Ingin rasanya diri ini selalu bersama bunda

Bunda oh Bunda

            Sungguh aku masih tidak percaya kalau bunda telah tiada, hingga semua proses pemakaman sudah selesai, aku dan saudara-saudaraku masih menyisakan kesedihan atas kepergian sang bunda, Namun aku yakin bunda disana sangat bahagia, bunda sudah ketemu ayah, beliau berdua pasti merasakan kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan sebuah kata.
            Beberapa hari setelah wafatnya bunda, ku coba melangkahkan kaki menuju kamar bunda, kutatapi semua foto dan peninggalan-peninggalan bunda yang masih terawat. Akhirnya mataku tertuju pada sajadah indah yang biasanya sering dipakai bunda dalam ibadahnya. Hanya inilah yang membuat hati merasa tenang dan merasakan kesejukan disaat sejadah tersebut berada dalam pelukanku.
            Beberapa hari kemudian, aku idzin kepada saudara-saudara untuk pergi melanjutkan kuliah yang akhir-akhir ini sudah banyak aku tinggalkan. Tak lupa aku nyekar kepesarean ayah bunda untuk melepas rindu dengan melantunkan berbagai macam do’a. Sebelum berangkat ku teringat sama sajadah cantik bunda yang aku temukan didalam kamarnya, akhirnya dengan rasa sedih bercampur bahagia ku bawa sajadah itu untuk menemaniku dalam rantauan mencari ilmu.
            Setelah aku menginjakkan kakiku di tanah kota Pahlawan, aku buka kembali sejadah bunda yang aku bawa dari rumah, untuk mengobati rasa rinduku pada bunda yang selama ini masih belum bisa terobati. Aku buat sajadah bunda untuk selalu menemaniku dalam beribadah, disaat sholatku sampai pada gerakan sujud, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika hidung ini menyentuh sajadah bunda, aroma wangi melati menjadikan aku terhipnotis olehnya. Aku heran dari mana datangnya wangi-wangian itu padahal sebelumnya aku tidak  merasakannya. Hal ini bukan hanya satu kali terjadi, bahkan setiap kali aku sujud diatas Sajah bunda aku pasti mencium wangi melati melati tersebut, padahal aku tidak pernah memberi minyak wangi setetespun untuk sajadah bunda.
            Bukan hanya aroma wangi saja yang aku rasakan setiap aku berada diatas sajadah bunda. Ada kenikmatan lain yang membuat diri ini selalu merasakan ketenangan, kebahagiaan dan ketentraman hati. Hal ini dapat aku rasakan karena melihat selama bunda hidup, sajadah inilah yang selalu menemaninya dalam ibadahnya, hingga kenikmatan ibadah-ibadah bunda dapat aku rasakan saat ini. Bahkan sajadah tersebut dapat membantu aku untuk melepas rindu terhadap sang Bunda. I Love to Bunda do’aku tidak pernah lepas Untuk mu............