Pagi yang indah membuat seuasana semakin bergairah, tiupan angin yang lembut dengan kipasannya yang begitu halus dan ditambah lagi dengan atraksi paduan suara burung-burung hingga membuat suasana pagi semakin indah dan ceria. Dengan suasana seperti itu, diri ini seakan-akan berada dalam lautan kebahagiaan meskipun dipagi itu juga aku lagi menunggu detik-detik menjelang pengumuman kelulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Goncangan jantungku semakin terasa, qolbu sudah mulai gelisah dan fikiran mulai tidak karuan, akan tetapi semua itu telah terobati oleh suasana pagi yang selama ini baru kurasakan keindahannya.
Pukul 06.30 WIB, kaki mulai melangkah menuju sekolah. Bersama teman-teman yang lain, ku hilangkan semua kehawatiran dengan canda tawa menjelang detik-detik kelulusan. Disaat bel berbunyi, jantung mulai bikin suasana semakin kacau, qolbu juga tidak kalah mengekspresikan dirinya dengan sebuah kehawatiran dan pikiran mulai memanas, tanpa terasa keringat dingin mulai membanjiri tubuhku hingga diriku selalu dihantui oleh kehawatiran tidak lulus bahkan optimis untuk lulus menipis dibuatnya. Untuk mereda rasa kehawatiranku, mulutku tiada henti melafadzkan kalimat-kalimat suci dengan harapan Allah memberikan yang terbaik buat diriku dan memberikan ketenangan dalam menjalani semua ini.
Kepala sekolah mulai memberikan sambutan, aku dan teman-teman tidak terlalu konsentrasi terhadap apa yang disampaikan oleh kepala sekolah. Pikiran ini hanya tertuju pada LULUS dan TIDAK. Pikiran semakin kacau ditambah lagi denyut jantung semakin kencang hingga tanpa disadari, kepala sekolah mulai memberikan gambaran tentang hasil ujian para muridnya, dan ternyata beliau menginformasikan bahwa ada sedikit masalah tentang hasil ujiannya. Mendengar hal itu, pikiran sudah tidak tahu arah dan jantung berdetak terasa semakin kencang bahkan qolbupun sudah tidak mengenali sebuah ketenangan, diri ini sudah tidak sanggup lagi menerima kenyataan ketika mengingat proses ujian berlangsung, dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan hingga menambah kehawatiran diriku untuk TIDAK LULUS semakin besar.
Kemudian satu persatu para murid diberi sebuah amplop berisi sebuah kertas yang didalamya terdapat sebuah keputusan hasil ujian yang sangat menegangkan. Ketika aplop itu berada digenggamanku, pikiran tambah kacau, detak jantung semakin kencang disertai keringat dingin yang membasahi seluruh pakaianku. Aku tidak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui kalau diriku TIDAK LULUS.
Kutenangkan pikiran dan tak lupa mulut mengeluarkan kata Istighfar, Aku harus yakin kalau aku LULUS. Setelah semuanya dapat amplop, kepala sekolah memberi tahu kalau amplopnya dibuka bareng biar terasa kompak. Kemudian kepala sekolah menginstrusikan bahwa sebelum membuka diharapkan untuk membaca Basmalah bersama-sama agar apa yang kita harapkan dapat tercapai. Dengan serentak semua murid melafadzkan Bismillahirrohmanirrahim pelan-pelan kubuka amplop dengan tangan gemetar dan jantung berdetak kencang, setelah kubuka ternyata ALHAMDULILLAH terimaksih ya Allah engkau telah meluluskan hamba, engkau telah membuat hamba benar-benar bahagia.
Setelah semuanya sudah terjawab, aku langsung melangkahkan kaki menuju gubuk kelahiranku dengan membawa sejuta kebahagiaan. Aku langsung memberi tahu bundaku kalau sang buah hatinya telah melewati masa-masa menjadi siswa dengan sempurna.
Keesokan harinya, dirumah mengadakan tasyakkuran kecil-kecilan dalam rangka mensyukuri kemurahan Allah pada Hambanya yang telah memudahkan seorang hamba dalam sebuah kehawatiran, hal ini tidak pernah lepas dari Do’a sang bunda hingga anaknya sukses menjalani masa-masa siswanya.
Alangkah besar jasa bunda pada diriku, namun aku sangat merasa iba melihat bunda yang selalu terpaut dalam kesedihan ketika mengingat masa-masa indah bersama Ayah. Ayah sudah lama meninggalkan kami, kepergian ayah meninggalkan sejuta kenangan indah dalam keluarga. Sejak ayah tiada, yang membiayai sekolah serta kebutuhanku adalah bunda. Bunda dalam kacamataku bukan hanya sosok perempuan yang sholihah, namun bunda adalah pahlawanku yang memiliki keinginan yang kuat untuk mensukseskan buah hatinya.
Aku adalah si bungsu dari empat bersaudara, semua saudara-saudaraku sudah menyelesaikan pendidikannya di S1, hanya tinggal akulah yang masih proses untuk menuju kejenjang yang lebih tinggi, ibuku banyak berharap kepadaku, karena akulah satu-satunya yang bisa diharapkan oleh Bunda.
Untuk mememenuhi permintaan bunda, aku mulai melangkah mancari informasi tentang perguruan tinggi, dan ternyata Alhamdulillah aku telah diterima di salah satu perguruan tinggi Negeri di Surabaya, meskipun hati ini terasa berat meninggalkan Bunda, Namun semuanya harus aku Ikhlashkan buat bunda juga.
Waktu kini berjalan tanpa henti mengiringi siang dan malam, hingga diriku terbawa kenikmatan dunia perkuliahan, namun aku masih merasakan ridu akan suara lembut dan senyum sang bunda, ku coba ambil air wudhu’ dan membaca kalam Ilahi yang bertujuan agar sang bunda dirumah oleh Allah selalu diberikan ke sehatan dan kebahagiaan.
Waktu terus berputar menuntun aku dalam menjalani perkuliahan. Tanpa terasa aku sudah dua bulan menikmati rantauan mencari ilmu dalam dunia perkuliahan. Aku rindu Bunda, aku rindu raut wajahnya yang membuat hati ini tentram, aku rindu suara bunda ketika membaca Kalam-kalam Allah, kapankah aku bisa ketemu bunda????
Keesokan harinya aku dapat telpon dari keluarga dirumah bahwasanya saat ini bunda kesehatannya mulai terganggu, keluarga dirumah memohon agar aku selalu senantiasa mendoakannya setiap selesai sholat, karena Do’a seorang Anak untuk ibunya sangatlah istijabah. Mendengar kabar dari keluarga dirumah qolbu selalu merasa bersalah, merasa sudah tidak dapat membahagiakan bunda, namun diri ini harus tidak selalu terbuai oleh rasa bersalah, karena bunda dirumah tidak membutuhkan sebuah penyesalan dari ku, yang beliau butuhkan saat ini adalah do’a dari ku. Ku langkahkan kaki menuju tempat wudhu’ kemudian setelah tubuhku bersih, ku mulai menghadap ilahirobbi, mengadu, meratapi semua masalah yang aku hadapi saat ini.
Ya Allah ya Robbi...
Engkaulah tempat hamba mengadu
Engkaulah tempat hamba memohon
Engkaulah tempat meluapkan isi hati hamba
Hanya kepada-Mulah Hamba meminta
Karena engkaulah
Maha Rahim Hamba
Maha Rahman Hamba
Maha Ghofur segala Noda-Noda hitam pada diri Hamba
Maha diatas segala maha
Hamba mohon
Tolong berikan yang terbaik buat ibu Hamba
Datangkanlah kebahagian padanya
Berikanlah kesehatan dan kesembuhan
Atas penyakit yang sedang dideritanya
Hamba mohon ya Allah...
Kabulkan lantunan do’a hambamu ini
Karena Engkaulah sang pengabul do’a
Karena Engkaulah sang pengabul segala keluh kesah seorang hamba
Karena Engkaulah maha penentu segalanya
Amin.....
Setelah aku mengadu kepada sang pencipta, kemudian tanpa terasa mata sudah mulai memejamkan dirinya, mulut sudah terbuka merasakan kantuk yang tidak tertahankan, akhirnya diri ini terbawa alam bawah sadar dan menikmati kenikmatan bunga tidur yang menjadi teman dalam tidurku. Beberapa menit kemudian, HP ku berbunyi, setelah dilihat ternyata kakakku, aku kaget kok tumben kakak nelpon ditengah malam-malam begini, ada apakah gerangan???. Untuk mengobati rasa penasaranku ku coba angkat telponnya, ternyata ada suara tangisan yang membuat saya semakin penasaran. Dengan nada sedikit gemetar kakak bilang kalo Bunda sudah tiada, mendengar hal itu aku menjerit histeris untuk meluapkan rasa ketidak percayaanku akan kenyataan ini, aku tidak tahu apa yang harus ku perbuat untuk cepat-cepat menemui bunda. Tanpa cuci muka n masih mengenakan pakaian yang aku pakai saat tidur, aku langsung berangkat menuju Gubuk kelahiranku dalam kondisi qolbu yang teriris dan mata penuh dengan cairan. Aku tidak menyanggka ibuku akan minggalkan aku secepat ini.
Setelah aku sampai dirumah, suasana duka menyelimuti ruang yang selama aku tinggalkan penuh dengan kebahagiaan, akan tetapi kini sudah berubah menjadi lautan air mata dan isak tangis yang menghiasinya. Ketika aku disana, bunda sudah terbungkus oleh kain kafan, tanpa henti air mata menetes melihat senyum manis bunda yang terbalut oleh kain kafan, diri ini masih belum percaya kalau yang tidur tanpa nafas adalah bunda.
Bunda...
Kenapa engkau tega meninggalkanku?
Kenapa engkau secepat ini meninggalkanku?
Kenapa engkau rela aku hidup sendiri?
Aku masih butuh bunda
Aku masih ingin bunda
Aku masih ingin bunda disampingku
Teriris hati ini
Tergores jiwa ini
Terluka batin ini
Air mata tidak mau berhenti
Qolbu semakin terhimpit
Nafas sudah tidak terkendali
Ingin rasanya diri ini ikut bunda
Ingin rasanya diri ini menemani bunda
Ingin rasanya diri ini selalu bersama bunda
Bunda oh Bunda
Sungguh aku masih tidak percaya kalau bunda telah tiada, hingga semua proses pemakaman sudah selesai, aku dan saudara-saudaraku masih menyisakan kesedihan atas kepergian sang bunda, Namun aku yakin bunda disana sangat bahagia, bunda sudah ketemu ayah, beliau berdua pasti merasakan kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan sebuah kata.
Beberapa hari setelah wafatnya bunda, ku coba melangkahkan kaki menuju kamar bunda, kutatapi semua foto dan peninggalan-peninggalan bunda yang masih terawat. Akhirnya mataku tertuju pada sajadah indah yang biasanya sering dipakai bunda dalam ibadahnya. Hanya inilah yang membuat hati merasa tenang dan merasakan kesejukan disaat sejadah tersebut berada dalam pelukanku.
Beberapa hari kemudian, aku idzin kepada saudara-saudara untuk pergi melanjutkan kuliah yang akhir-akhir ini sudah banyak aku tinggalkan. Tak lupa aku nyekar kepesarean ayah bunda untuk melepas rindu dengan melantunkan berbagai macam do’a. Sebelum berangkat ku teringat sama sajadah cantik bunda yang aku temukan didalam kamarnya, akhirnya dengan rasa sedih bercampur bahagia ku bawa sajadah itu untuk menemaniku dalam rantauan mencari ilmu.
Setelah aku menginjakkan kakiku di tanah kota Pahlawan, aku buka kembali sejadah bunda yang aku bawa dari rumah, untuk mengobati rasa rinduku pada bunda yang selama ini masih belum bisa terobati. Aku buat sajadah bunda untuk selalu menemaniku dalam beribadah, disaat sholatku sampai pada gerakan sujud, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika hidung ini menyentuh sajadah bunda, aroma wangi melati menjadikan aku terhipnotis olehnya. Aku heran dari mana datangnya wangi-wangian itu padahal sebelumnya aku tidak merasakannya. Hal ini bukan hanya satu kali terjadi, bahkan setiap kali aku sujud diatas Sajah bunda aku pasti mencium wangi melati melati tersebut, padahal aku tidak pernah memberi minyak wangi setetespun untuk sajadah bunda.
Bukan hanya aroma wangi saja yang aku rasakan setiap aku berada diatas sajadah bunda. Ada kenikmatan lain yang membuat diri ini selalu merasakan ketenangan, kebahagiaan dan ketentraman hati. Hal ini dapat aku rasakan karena melihat selama bunda hidup, sajadah inilah yang selalu menemaninya dalam ibadahnya, hingga kenikmatan ibadah-ibadah bunda dapat aku rasakan saat ini. Bahkan sajadah tersebut dapat membantu aku untuk melepas rindu terhadap sang Bunda. I Love to Bunda do’aku tidak pernah lepas Untuk mu............








0 komentar:
Posting Komentar