Ads 468x60px

Search Box

Selasa, 26 April 2011

Pertemuan Mengaharukan

Oleh: Abung eL-Farisy aL-Manduri



Awan  mendung  mewarnai  alam, hingga  suasana  menjadi  gelap  mengiringi  aku dan  ibunda  pergi  merantau.  Menembus  gelapnya  kegelapan,  menyebrangi  rintikan–rintikan  hujan,  dan  melawan  hembusan  angin  kencang.  Kami  berdua  tetap  saja  merantau,  untuk  bertemu  dengan  salah  seorang  yang  s’lama  ini  aku  rindukan.  Tak  ada  lain  orang  itu  adalah  Ayahanda  tercinta,  yang  hilang  bagai  ditelan  bumi.
Disa’at  petir  menyambar,  dan  bumi  mengamuk  hingga  banyak  pepohonan  jatuh  dan  runtuh.  Namun  semua  itu  tidak  akan  bisa  mematahkan  semangat  kita  berdua.  Sehingga  Aku  dan  Ibunda  tetap meneruskan   perjalanan  tanpa  mengenal  keadaan  yang  semakin  mengganas

      
Dikeluargaku hanyalah  tinggal  aku dengan  Ibunda.  Karena  ayah  sudah  lama  meninggalkan  kami  berdua.  Sehingga  sedih  rasanya  jikalau  dalam  sebuah  keluarga  kehilangan  seseorang  yang  dicintai,  Ayah  pergi  tanpa  alasan  yang  jelas,  Beliau  Cuma  bilang  untuk  pergi  dalam  jangka  waktu  tujuh  hari,  sehingga kemudaian  kepergiannya  melebihi  waktu  yang  telah  dijanjikan,  bahkan  sudah sampai  tiga  bulan  beliau  belum  juga  kembali.  Bersamaan  dengan  peristiwa  itu,  Ibunda  jatuh  sakit  sehingga  membuat  diriku  semakin  sedih  dan  hari-hariku  selalu  digeluti  deraian  air  mata.  Aku  tidak  tega  mendengar  rintihan-rintihan  ibu  yang  selalu  menyebut-nyebut  nama  ayah.  Dan  seharusnya  apa  yang  harus  aku  lakukan  untuk  bisa  membahagiakan  ibu?               
Setelah  dua  minggu  berlalu,  ada  salah  seorang  tetangga  memberi  kabar  kepadaku,  bahwasanya  dia  pernah  bertemu  dengan  seorang  laki-laki  yang  memiliki  ciri  persis  seperti  ciri  Ayahku.  Laki-laki  itu  katanya  tinggal  disebuah  tempat  yang  jauh  dan  sepi  dari  penduduk,  sehingga  dia  selalu  pergi   kepasar  desa  ini  untuk  mencari  bekal  hidupnya.  Setelah  itu  aku  beranggapan  bahwa  laki-laki  itu  adalah  Ayahku.
Untuk  membuktikan  kebenaran  berita  yang  didapat  dari  tetanggaku,  Aku  punya  rencana untuk  merantau  sambil  mencari  ayah mulai  besok  dan  rencananya  aku  pergi  sendirian,  akan  tetapi  ibunda  ingin  ikut  merantau  juga,  Aku  khawatir,  takut  terjadi  apa-apa  pada  diri  Ibu,  karena  beliau  masih  dalam  keadaan  sakit, sehingga  aku  melarangnya  untuk  ikut.  Namun  keinginan  Ibu  sangat  kuat  meskipun  sudah  saya  bujuk  Beliau  untuk  tidak  ikut.  Sebagai seorang  anak,  aku  tidak  enak  sendiri  menolak  keinginan  sangIbu,  meskipun  kondisi  ibu  tidak  baik.   Sehingga  aku  terpaksa  menerima  permintaan  Ibu.
Keesokan  harinya  Aku  dan  ibu  mulai  berangkat  untuk  merantau  sambil  mencari  ayah,  kemudian  aku  menitipkan  rumah  ketetangga  dekatku  dan  al-hamdulillah  dia  sanggup  menjaganya,  setelah  itu  aku  dan  ibunda  mulai  melangkahkan  kaki  meninggalkan  desa  kelahiranku  dengan  bekal  yang  insya  Allah  cukup  untuk  kami  berdua  selama  kami  berada  dalam  perjalanan.
Dua  hari  sudah  kami  lewati.  Namun  tidak  ada  tanda-tanda  tentang  keberadaan  Ayah,  akan  tetapi  semangat  kami  untuk  mencari  Ayah  tetap  teguh  dan  kokoh  sehingga  kami  terus  melanjutkan  perjalanan  walaupun  banyak  rintangan  dan  tantangan  yang  menimpa  kami  berdua.
Ketika  perjalanan  kami  sudah  makan  waktu  satu  minggu,  Ibunda  mengeluh  dan  menyuruh  aku  untuk  mencari  tempat  istirahat,  karena  beliau  sudah  tidak  kuat  lagi  untuk  melanjutkan  perjalanan.  Dan  akhirnya aku  berusaha  untuk  mencarinya  sebab  aku  tidak  tega  mendengar  keluhan  yang  terucap  dari  lisan  bunda.  Dan  ternyata  Al-hamdulillah  aku  menemukan  tempat  yang  kami  harapkan.
Setelah  kami  menempati  tempat  itu,  Ibunda  langsung  merebahkan  tubuhnya  diatas  tempat  yang  terbuat  dari  bambu-bambu  yang  sudah  dipotong-potong  menjadi  sebuah  tempat  tidur  untuk  menghilangkan  lelah,  yang  sudah  terkuras  sebelumnya.
Sebentar  kemudian,  ibu  telah  nyenyak  dari  tidurnya,  bersamaan dengan  itu  kudengar  alam  mulai  batuk,  bertanda  akan  turun  hujan,  sehingga  sedikit  demi  sedikit  setetes  air  hujan  jatuh  diatas  keningku,  Aku  mulai  melindungi  diri  dari  jatuhnya  air  yang  semakin  deras.  Selain  itu  angin  sudah  mulai  mengipas  dirinya dengan  kencang,  hingga  membuat  diriku  tak  mampu  menghindarinya.  Ketika  itu  juga  sambaran  petir  juga  menghantui  malam  ini  dan  membuat  semua  isi  alam  gemetar  ketakutan.
Bercermin  dari  peristiwa  ini,  Aku  renungi,  hayati  dan  mengabadikan  kedalam  sebuah  syair  untuk  dijadikan  memory  dalam  hidupku,  karena  selama  aku  hidup  tidak  pernah  merasakan  peristiwa  yang  saya  rasakan  saat  ini  .Kumulai  merangkai  kata  demi  kata  sehingga  membentuk  sebuah  puisi  yang  aku  alami  sekarang.
Malam  tiada  bunyi
Hembusan angin tiada henti
Hujan deras dengan petir yang menyambar
Sungguh malam yang menakutkan……….
Malam yang membuat alam berantakan
Malam yang banyak merugikan insan
Sungguh malam yang menakutkan ……….
Malam yang disertai angin kencang
Yang membuat bumi terasa bergoncang
Sungguh malam yang menakutkan ………..
Disertai hujan dan petir yang menyambar
Yang membuat semua orang ketakutan
Sungguh malam yang sangat menakutkan…
Setelah  itu,  lamunanku  ketika  membuat  sebuah  puisi  dikejutkan  oleh  rintihan  ibu,  sehingga  aku  mendekatinya  dan  menyuruh  bunda  untuk  tidur  kembali  dan  akhirnya  bunda  melanjutkan  kembali  tidurnya  sampai-sampai  membuat  diriku  untuk  ikut  tidur  dibawah  lapu  bulan  punama  bersama  ibunda.
Ketika  pagi  sudah  tiba,  matahari  mulai  menampakkan  dirinya,  dengan  cahaya  dan  sinar  yang  ia  miliki.  Dan  kudengar  burung-burung  bernyanyi  dengan  riang,  menyambut  datangnya  pagi  yang  cerah.  Selain  itu  air  embun  yang  s’lalu  membuat  suasana  pagi  menjadi  lebih  segar  ditambah  lagi  dengan  sepoian  angin  pagi  yang  dapat  merasakan  kelembutan  dipagi  hari.  Dan  kemudian  aku  juga  mendengar  kokokan  ayam  jantan  yang  dengan  setianya  membangunkan  aku  dari  tidur  malamku.  sehingga  membuat  diriku  merasakan  keindahan  yang  tersirat  dipagi  hari.  Ketika  itu  juga,  pagi  yang  tadinya  cerah  telah  dicemari  oleh  rintikan-rintikan  hujan,  tetapi  meskipun  demikian  matahari  tetap  menampakkan  dirinya,  sehingga  ia  dapat  mengalahkan  rintikan-rintikan  hujan  untuk  berjatuhan  kembali.  Namun  tiba-tiba  kulihat  pelangi  muncul  dengan  keindahan  warnanya  yang  berfariasi  menambah  indahnya  suasana  dipagi  hari.
Dari  keindahan  pagi  yang  aku  rasakan,  membuat  tanganku  untuk  menulis  sebuah  puisi  kembali  sebagai  memory  yang  kedua  dalam  perjalananku.  Sehingga  kesedihan  yang  aku  alami  sekarang  dibuatnya  tidak  terasa  oleh  keindahan   alam  sa’at  ini.  


Sayup-sayup angin pagi
Dengan embun yang membasahi
Disertai mentari pagi
Menghiasi alam ini

Rintik-rintik air hujan
Membasahi dedaunan
Memberi kesan yang menyenangkan
Bagi setiap insan

Sepi-sepi air hujan
Hingga timbul sinar yang terang
Dengan pelangi yang bersinar
Menghiasi keindahan alam

Kemudian  setelah  itu  kami  bersiap-siap  untuk  melanjutkan  kembali  perjalanan  yang  sudah  makan  waktu  hampir  dua  minggu.  Kami  berdua  akhirnya  sampai  ditempat  yang  sepi  dan  jauh  dari  penduduk,  sehingga  kami  menemukan  sebuah  gubuk  yang  kelihatannya  tidak  ada  penghuninya,  akan  tetapi  hati kecilku  mengajak  untuk  pergi  kegubuk  tersebut  dan  ternyata  kumelihat  ada  seorang  laki-laki  yang  tidak  berdaya  sedang  berbaring  lemas  diatas  beberapa  daun  pisang,  Aku  yakin  bahwa  orang  itu  adalah  ayahanda  yang  s’lama  ini  aku  rindukan,  dan  kemudian  aku  dan  ibu  menghampiri  laki-laki  itu,  akan  tetapi  apalah  yang  terjadi,  orang  itu  bukanlah  ayah  yang  sedang  aku  cari,  bahkan  dia  adalah  orang  gila  yang  tidak  tahu  apa-apa.  Melihat  semua  itu  aku  dan  ibunda   kecewa  karena  yang  kami  lihat  bukan  ayah,  kemudian  bunda  menyuruh  aku  untuk  melanjutkan  perjalanan.
Keesokan  harinya  aku  dan  bunda  melanjutkan  perjalanan  dengan  bekal  yang  kami  bawa  tinggal  sedikit,  sehingga  kami  menghemat  bekal  tersebut  agar  tidak  cepat  habis.  Namun  al-hamdulillah  Allah  telah  memberikan  rizki  pada  kami  berupa  makanan  yang  kami  temukan  pas  dihadapan  ku.  Dan  akhirnya  aku  mengambil  makanan  itu  untuk  membantu  kami  melanjutkan  perjalanan.
Setelah  kami  menikmati  makanan  tersebut,  kami  melanjutkan  lagi  perjalanan  yang  sudah  melewati  dua  minggu.  Kami  sudah  jauh  dari  desa  tempat  tinggalku,  sehingga  ingin  rasanya  aku  segera  pulang,  namun  aku  tidak  boleh  pulang  sebelum  menemukan  ayah  dan  aku  harus  bisa  membawa  ayah  pulang  bersama  kita,  tapi  dimanakah  ayah  berada ?
Waktu  terasa  terus  berputar  mengiringi  kami  merantau  mencari  seseorang  yang  telah  sekian  lama  menghilang,  namun  masih  belum  juga  kami  temukan.  Ya….Allah  tolonglah  hambamu  ini, agar  Engkau  mempertemukan  kembali  hamba  dengan  ayah  hamba,  tolonglah  ya….Allah  berijalan  keluar  untuk  bisa  mencari  ayah  dengan  mudah  dan  berikanlah  petunjuk-MU  tentang  keberadaan  ayah  sekarang,  ya…Allah  tolonglah  hambamu  yang  hina  ini,  karena  hanya  Engkaulah  yang  dapat  membantu  hamba  untuk  bisa  bertemu  kembali  dengan  ayah.  Amien  ya  Robbal  ‘alamin.
Keesokan  harinya,  kami  mulai  berjalan  disebuah  tempat  yang  jarang  sekali  kami  lihat  manusia,  akan  tetapi  banyak  hewan-hewan  liar  yang  tinggal  ditempat  itu  melihat  kedatangan  kami  berdua.  Kemudian  kami  terus  melangkahkan  kaki  dan  tidak  menghiraukan  perhatian  hewan-hewan  tersebut,  sehingga  membuatnya  tersinggung  dan  mengejar-ngejar  hingga  kami  berdua  kelelahan,  setelah  itu  al-hamdulillah  Allah  telah  menyelamatkan  kami  dari  kejaran  hewan-hewan  liar  itu.
Perjalanan  kami  sudah  hampir  satu  bulan,  namun  semangat  ibu  dan  aku  tetap  memuncak,  meskipun  bekal  yang  kami  bawa  sudah  tinggal  satu  hari  lagi.  Selanjutnya  ibunda  melihat  ada  sebuah  gua  didekat  pohon  wringin  yang  sangat  besar,  ibunda  mengajak  aku  untuk  mencoba  masuk  kegua  tersebut,  takut  didalam  ada  penghuninya  dan  siapa  tahu  penghuninya  itu  adalah  ayahmu  nak !  Kata  ibunda  kepadaku.  Kemudian  kucoba  turuti  perintah  Bunda  karena  aku  yakin  sekali,  kalau  perkataan  bunda  itu  pasti  kenyataan.  Akhirnya  aku  sudah  memasuki  gua  itu,  sedangkan  bunda  menunggu  diluar.  Setelah  aku  memasuki  gua  itu,  aku  merasa  ketakutan  karena  didalam  gua  itu  banyak  penunggunya,  namun  ketika  hati  kecilku  ingat  kepada  Allah,  perasaan  takutku  sudah  mulai  hilang  dan  kuteruskan  langkahku  menuju  kesebuah  kamar  didalam  gua  itu,  kemudian  kulihat  ada  seorang  laki-laki  yang  sudah  tua  menahan  sebuah  penderitaan,  akhirnya  kuhampiri  laki-laki itu  dengan  perasaan  yang  penuh  harapan.  Setelah  itu  dugaan  ibu  benar,  laki-laki  itu  adalah  ayahku  yang  s’lama  ini  aku  cari-cari.  Namun  sayang  ayah  kehilangan  ingatan,  tapi  meskipun  ayah  seperti  itu  aku  harus  mempertemukannya  dengan  ibu,  siapa  tahu  setelah  melihat  ibu  ayah  ingat  kembali”.  Kata  aku  dalam  hati.  Kemudian  aku  membawa  ayah  keluar  dalam  keadaan  yang  tak  berdaya,  sehingga  sangat  sulit  rasanya  untuk  membawanya  keluar,  tapi  aku  harus  bisa  bawa  ayah  keluar  demi  kebahagiaan  bunda.  Setelah  itu  tak  lupa  kumemohon  pertolongan  kepada  Allah,  untuk  bisa  membawa  ayah  keluar.  Rupanya  Allah  telah  mengabulkan  permintaanku,  sehingga  aku  bisa  membawa  ayah  keluar  dengan  mudah.
Setelah  aku  membawa  ayah  keluar,  aku  langsung  panggil  ibu  yang  dari  tadi  telah  menunggu  dengan  menyimpan  banyak  harapan.  Setelah  ibu  menoleh  kepadaku.  Dan  ketika  melihat  ada  orang  didekatku,  secara  spontan  ibu  lansung  bersimpuh  sambil  mengangkat  kedua  tangannya  untuk  berterimakasih  kepada  Allah  yang  telah  mempertemukannya  dengan  sang  suami,  sehingga  membuat  ibunda  meneteskan  air  mata  kebahagiaan.  Lalu  ibu  langsung  mendekati  ayah.  Kemudian  keajaiban  terjadi  ketika  ibu  dan  ayah  saling  menatap,  membuat  ayah  sudah  ingat  kembali  kepada  ibu  dan  aku,  sehingga  kami  bertiga  saling  berpelukan  dengan  penuh  kebahagiaan.  Tidak  bisa  aku  bayangkan  kebahagiaan  ini  ibarat  diriku  seperti  tidak  pernah  merasakan  penderitaan.
Dari  kebahagiaan  itulah,  kumenulis  sebuah  puisi,  sebagai  memory  penutup  dari  perjalananku,  sekaligus  sebagai  rasa  keberhasilanku  untuk  bertemu  dengan  ayah. 
Kumulai  melangkahkan  kaki  untuk  menyendiri,  merenungi  sebuah  kenyataan  yang  aku  alami  sekarang,  kenyataan  itu  adalah  sesuatu  yang  aku  nilai  sangat  indah  dalam  hidupku,  sehingga  kenyataan  tersebut  menjadi  sebuah  puisi  yang  terdiri  dari  beberapa  paragraph  dan  beberapa  bait.  Puisi  itu  telah  aku  susun  rapi  disebuah  kertas,  demi  keawetannya.
Bunyi  puisi  terakhirku  adalah:               

Sekianlama air mata  mengalir
Merasakan sebuah penderitaan
Yang s’lalu menghantui hidupku

Tajam bagaikan pedang
Panas bagaikan kobaran api
Dan licin bagaikan cermin

Tapi ……….

Kini penderitaan itu telah meleleh
Bagaiakan es yang kepanasan
Hingga habis tanpa tersisa
Ditelan oleh  masa

Indah bagai kan bunga
Suci bagaikan warna putih
Manis bagaikan gula
Dan jernih bagaikan air embun
Semua itu yang telah aku rasakan saat ini
Sungguh tak terbayangkan

Dan  akhirnya  kami  bertiga  bersama  untuk  kembali,  sehingga  perjalanannya   yang  jauh  tidak  terasa jauh  meskipun  sebelumnya  sudah  makan  waktu  yang  cukup  lama.
Kemudian  kami  bertiga  sudah  menginjakkan  kaki  dikampung  halaman,  dan  kulihat  masyarakat  banyak  yang  menyambut  kedatangan  kami  bertiga  dengan  gembira.  Sehingga  aku  merasa  terharu  dan  salut  terhadap  mereka,  dan  ingin  rasanya  aku  membahagiakan  mereka  sebagaimana  mereka  telah  membahagiakan  aku  seperti  kebahagiaan  yang  aku  rasakan  sekarang.
Kami  sekeluarga  sudah  lama  berkumpul,  menciptakan  kebahagiaan,  kerukunan,  dan  keharmonisan  serta  kedamaian  dalam  sebuah  bahtera  keluarga.  Aku  bahagia  sekali  melihat  sesuatu  yang  indah  dalam  keluargaku.  Dan  akhirnya  kebahagiaan  itu  tetap  berlanjut  sampai  pada masa  cucuku.

0 komentar:

Posting Komentar