skip to main |
skip to sidebar
Liontin Naila
Oleh: Abung Alfarisy
“Hidup
Bahagia” sebuah cita-cita yang ingin diraih oleh Naila. Dalam hidupnya,
linangan air mata selalu menjadi mutiara pada dirinya. Gaun kegalauan
pun telah menjadi sampul dan selalu menutupi lentera kebahagiaan yang
dia punya. Hanya sebuah liontin menjadi sahabat setia dikala dia ingin
menumpahkan kesedihannya.
Waktu telah mengahiri penderitaan
Naila. Pagi yang seharusnya cerah, menjadi mendung seketika, karena
sosok gadis terbujur kaku di dalam sebuah kamar mandi. “Naila dibunuh?!”
terdengar jeritan warga, ketika mengetahui mayat Naila bersimbah darah.
“Dibunuh, terbunuh atau membunuh?” terdengar bisikan lagi dari lisan
salah seorang diantara mereka.
Kebetulan kejadian tersebut
sebelumnya telah diketahui oleh warga bernama Trisno, yang sedang lewat
samping rumah Naila. Karena mencium bau tidak sedap, akhirnya dia
memberanikan diri untuk masuk. Ketika mengetahui ada mayat di kamar
mandi, dia berteriak dan melaporkan kepada Polisi. Namun, ternyata masih
menyempatkan dirinya untuk mengambil liontin yang melekat pada leher
Naila.
Dari hasil olah TKP yang dilakukan Polisi, Naila mati
diduga bunuh diri. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan pada luka yang
membekas di tubuhnya. Hanya saja, polisi mencurigai bekas lingkaran yang
melingkar di sekitar leher Naila.
“Kayaknya ini ada benda yang seharusnya ada,” ucap polisi terheran-heran sambil memperhatikan leher Naila.
Mendengar ucapan tersebut Trisno gelisah, dan seolah-olah ingin mengalihkan pembicaraan.
“Maaf Pak, lebih baik mayat ini segera diurus pemakamannya, karena dia
sudah tidak punya keluarga,” kata Trisno berharap Polisi melupakan bekas
di leher Naila.
“Ooh, ya, kebetulan pemeriksaannya sudah cukup, silahkan segera diurus,” perintah Polisi pada warga.
Trisno menjadi lega, langkah kakinya dengan cepat untuk pulang membawa
perasaan bahagia. Dia sudah tidak sabar ingin segera memperlihatkan
liontin kepada kekasihnya.
“Dek, aku punya sesuatu buat kamu,” ucap Trisno pada kekasihnya.
“Wah, tumben Abang ngasih aku kejutan,” jawab Lita kekasih Trisno, dengan gemulai.
“Ini sebagai bukti, kalau Abang sangat cinta Dek Lita,” sembari menyodorkan liontin Naila kepada Lita.
“Wow, bagus baget Bang, terimakasih.”
Dengan perasaan senang, dia langsung mencoba liontin itu. Dan kemudian
secara tiba-tiba lehernya terbelah hingga merenggut nyawa Lita.
“Ingat...! Liontin ini hanya milik Naila.” Menggema seketika.
0 komentar:
Posting Komentar