Ads 468x60px

Search Box

Kamis, 09 Januari 2014

Liontin Naila

 Oleh: Abung Alfarisy
“Hidup Bahagia” sebuah cita-cita yang ingin diraih oleh Naila. Dalam hidupnya, linangan air mata selalu menjadi mutiara pada dirinya. Gaun kegalauan pun telah menjadi sampul dan selalu menutupi lentera kebahagiaan yang dia punya. Hanya sebuah liontin menjadi sahabat setia dikala dia ingin menumpahkan kesedihannya.

Waktu telah mengahiri penderitaan Naila. Pagi yang seharusnya cerah, menjadi mendung seketika, karena sosok gadis terbujur kaku di dalam sebuah kamar mandi. “Naila dibunuh?!” terdengar jeritan warga, ketika mengetahui mayat Naila bersimbah darah. “Dibunuh, terbunuh atau membunuh?” terdengar bisikan lagi dari lisan salah seorang diantara mereka.

Kebetulan kejadian tersebut sebelumnya telah diketahui oleh warga bernama Trisno, yang sedang lewat samping rumah Naila. Karena mencium bau tidak sedap, akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk. Ketika mengetahui ada mayat di kamar mandi, dia berteriak dan melaporkan kepada Polisi. Namun, ternyata masih menyempatkan dirinya untuk mengambil liontin yang melekat pada leher Naila.

Dari hasil olah TKP yang dilakukan Polisi, Naila mati diduga bunuh diri. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan pada luka yang membekas di tubuhnya. Hanya saja, polisi mencurigai bekas lingkaran yang melingkar di sekitar leher Naila.
“Kayaknya ini ada benda yang seharusnya ada,” ucap polisi terheran-heran sambil memperhatikan leher Naila.
Mendengar ucapan tersebut Trisno gelisah, dan seolah-olah ingin mengalihkan pembicaraan.
“Maaf Pak, lebih baik mayat ini segera diurus pemakamannya, karena dia sudah tidak punya keluarga,” kata Trisno berharap Polisi melupakan bekas di leher Naila.
“Ooh, ya, kebetulan pemeriksaannya sudah cukup, silahkan segera diurus,” perintah Polisi pada warga.

Trisno menjadi lega, langkah kakinya dengan cepat untuk pulang membawa perasaan bahagia. Dia sudah tidak sabar ingin segera memperlihatkan liontin kepada kekasihnya.

“Dek, aku punya sesuatu buat kamu,” ucap Trisno pada kekasihnya.
“Wah, tumben Abang ngasih aku kejutan,” jawab Lita kekasih Trisno, dengan gemulai.
“Ini sebagai bukti, kalau Abang sangat cinta Dek Lita,” sembari menyodorkan liontin Naila kepada Lita.
“Wow, bagus baget Bang, terimakasih.”
Dengan perasaan senang, dia langsung mencoba liontin itu. Dan kemudian secara tiba-tiba lehernya terbelah hingga merenggut nyawa Lita.

“Ingat...! Liontin ini hanya milik Naila.” Menggema seketika.

0 komentar:

Posting Komentar