skip to main |
skip to sidebar
Ingin Berbisah
Oleh: Abung Alfarisy
Bila
sudah terlanjur cinta, tidak akan pernah mau melepaskannya. Bila
terpaksa berpisah, tidak akan pernah rela untuk melakukannya. Cinta
telah membutakan semua. Bahkan dengan cinta membuat diriku bermata
abu-abu terhadap Nuril, Dialah yg selama ini telah mengisi kekosongan
hatiku. akan tetapi cintaku padanya hanya pengisi kegalauanku. Ketulusan
cintaku padanya hanya sebuah simbol persahabatan semata. Tanpa ada
belang-belang zebra hatiku mulai berani mengungkapkan keseriusanku untuk
berpisah dengannya.
***
“Nuril, Abang mau bilang sesuatu?” pintaku
“Silahkan saja Bang, Nuril akan mejadi pendengar setia buat Abang,” jawabnya sembari tersenyum manis.
“Serius nih, tapi Nuril jangan marah ya?” tambahku seraya memantapkan
keyakinan, bahwa pacarku Nuril benar benar siap menerimanya.
“Selagi Abang tidak menyakitiku, Nuril selalu tersenyum untuk Abang”. Nuril pun menatapku dengan tatapan penuh harapan.
“Dengarkan baik-baik, Abang harap Nuril menerima keputusan Abang,” kataku pelan penuh kehati-hatian.
Nuril mengangguk, sebagai tanda setuju. Aku pun mulai menjelaskan inti dari yang kumaksud.
***
“Hubungan kita sudah mulai memasuki angka 3, dengan begitu, aku berkeinginan memutuskan untuk berpisah.”
Mendengar kata-kata berpisah, wajahnya berubah suram, sedih, dan linangan air mata menodai kecantikannya.
“Hiks’...Hik’s....Hik’s..., tega-teganya kaukhianati Nuril Bang, apa salah Nuril?”
“Nuril tidak punya salah, salahnya Nuril hanya negatif thinking pada Abang” ucapku seraya menghibur Nuril.
“Maksudnya?” tanya Nuril penasaran.
“Abang putusin untuk berpisah itu, maksudnya adalah, Abang pengen
berpisah dengan Kegalaun, berpisah dengan simbol persahabatan, yang
selama ini Abang tanam untuk Nuril, Abang juga ingin berpisah dengan
kekosongan hati, dan Abang berharap, Nuril akan memenuhi isi hati Abang
yang kosong ini.”
Mendengar kata-kataku, senyum di wajah Nuril mulai
tercipta. Matanya pun sudah menimbulkan bening-bening kebahagian yang
sempat hilang sejenak karena merasa kecewa.
“Ada satu lagi yang Abang ingin bilang” tambahku, sambil menatap tajam mata Nuril yang menyimpan ribuan harapan.
“Apa itu Bang?” tanya Nuril Penasaran.
“Abang ingin menghapus warna abu-abu yang sempat mewarnai hubungan kita,” jawabku penuh dengan keyakinan.
“Maksudnya?” Nuril Pun tambah penasaran.
Dengan penuh keberanian aku bilang: “Abang ingin menikahimu”.
Nuril bahagia mendengarnya.
0 komentar:
Posting Komentar