Ads 468x60px

Search Box

Kamis, 09 Januari 2014

Ingin Berbisah

Oleh: Abung Alfarisy

Bila sudah terlanjur cinta, tidak akan pernah mau melepaskannya. Bila terpaksa berpisah, tidak akan pernah rela untuk melakukannya. Cinta telah membutakan semua. Bahkan dengan cinta membuat diriku bermata abu-abu terhadap Nuril, Dialah yg selama ini telah mengisi kekosongan hatiku. akan tetapi cintaku padanya hanya pengisi kegalauanku. Ketulusan cintaku padanya hanya sebuah simbol persahabatan semata. Tanpa ada belang-belang zebra hatiku mulai berani mengungkapkan keseriusanku untuk berpisah dengannya.

***
“Nuril, Abang mau bilang sesuatu?” pintaku
“Silahkan saja Bang, Nuril akan mejadi pendengar setia buat Abang,” jawabnya sembari tersenyum manis.
“Serius nih, tapi Nuril jangan marah ya?” tambahku seraya memantapkan keyakinan, bahwa pacarku Nuril benar benar siap menerimanya.
“Selagi Abang tidak menyakitiku, Nuril selalu tersenyum untuk Abang”. Nuril pun menatapku dengan tatapan penuh harapan.
“Dengarkan baik-baik, Abang harap Nuril menerima keputusan Abang,” kataku pelan penuh kehati-hatian.
Nuril mengangguk, sebagai tanda setuju. Aku pun mulai menjelaskan inti dari yang kumaksud.

***
“Hubungan kita sudah mulai memasuki angka 3, dengan begitu, aku berkeinginan memutuskan untuk berpisah.”
Mendengar kata-kata berpisah, wajahnya berubah suram, sedih, dan linangan air mata menodai kecantikannya.

“Hiks’...Hik’s....Hik’s..., tega-teganya kaukhianati Nuril Bang, apa salah Nuril?”
“Nuril tidak punya salah, salahnya Nuril hanya negatif thinking pada Abang” ucapku seraya menghibur Nuril.
“Maksudnya?” tanya Nuril penasaran.
“Abang putusin untuk berpisah itu, maksudnya adalah, Abang pengen berpisah dengan Kegalaun, berpisah dengan simbol persahabatan, yang selama ini Abang tanam untuk Nuril, Abang juga ingin berpisah dengan kekosongan hati, dan Abang berharap, Nuril akan memenuhi isi hati Abang yang kosong ini.”
Mendengar kata-kataku, senyum di wajah Nuril mulai tercipta. Matanya pun sudah menimbulkan bening-bening kebahagian yang sempat hilang sejenak karena merasa kecewa.

“Ada satu lagi yang Abang ingin bilang” tambahku, sambil menatap tajam mata Nuril yang menyimpan ribuan harapan.
“Apa itu Bang?” tanya Nuril Penasaran.
“Abang ingin menghapus warna abu-abu yang sempat mewarnai hubungan kita,” jawabku penuh dengan keyakinan.
“Maksudnya?” Nuril Pun tambah penasaran.
Dengan penuh keberanian aku bilang: “Abang ingin menikahimu”.

Nuril bahagia mendengarnya.

0 komentar:

Posting Komentar