Ueeek…Ueeek…Ueeek…
Terdengar suara tangisan bayi menjadi hiasan ditengah-tengah keluarga besar bapak Mursyid dan Ibu Rahma. Tangisan tersebut menjadikan sebuah keluarga terasa dibanjiri oleh lautan kebahagiaan dan menjadikan keluarga seakan-akan berada dalam sejuta kenikmatan. “Sungguh senangnya mendapatkan buah hati yang sudah lama ditunggu kehadirannya”. Kata-kata itulah yang keluar dari lisan seorang bapak yang sedang terbuai oleh kebahagiaan atas kehadiran seorang anak.
Irsyad. Itulah nama yang dihadiahkan oleh orang tua kepada sang buah hatinya yang baru saja memulai hidupnya dengan sebuah tangisan. Kebahagiaan yang nampak dari pasangan Mursyid dan Rahma semakin bergejolak, ketika mereka berdua melihat senyum manis yang terpancar diraut wajah irsyad. Pandangan mereka minyimpan banyak harapan atas kehadiran irsyad. Karena irsyad merupakan anak tunggal yang dihadiahkan Tuhan untuk di jadikan penerus dan melanjutkan karier yang sudah dirintis oleh mereka berdua.
Bapak Mursyid merupakan Manager di salah satu perusahaan terkemuka di Surabaya, selama dia memimpin perusahan tersebut, tidak ada sedikitpun kendala serta tidak ada istilah gulung Tikar (bangkrut) yang menyelimuti kepemimpinannya. Bahkan pada waktu itu, perusahannya seringkali mendapat penghargaan dan dijadikan cerminan bagi perusahaan-perusahaan yang lain. Sehingga Dia sangat mengharap banyak kepada anaknya untuk bisa mempertahankan dan memajukan perusahaannya.
Sedangkan ibu Rahma merupakan wanita karier yang selalu sibuk hingga tidak kenal waktu dan tenaganya selalu terforsir oleh pekerjaannya. Karier ibu Rahma juga mengalami kemajuan yang sangat pesat, bahkan banyak Ibu-Ibu yang sempat kagum melihat Ibu Rahma sukses menjalani Kariernya. Meskipun pasangan bapak Mursyid dan Ibu Rahma sama-sama sukses. Dia tetap memiliki kepribadian yang baik dan tidak pernah membanggakan kesuksesannya kepada orang lain.
Sejak kehadiran Irsyad, Bapak Mursyid dan Ibu Rahma Mulai membagi waktu untuk bisa menemani sang buah hatinya. Belaian lembut serta kecupan kening yang selalu mereka lakukan sebagai wujud kecintaan mereka terhadap buah hatinya. Bahkan Mereka rela bolos kerja untuk menemani sang buah hati yang sudah lama dinatikan kedatangannya.
Waktu terus melangkah tanpa ada rasa lelah hingga membuat usia Irsyad semakin bertambah. Dan bapak Mursyid sudah mulai memikirkan pendidikan yang terbaik buat masa depan anaknya untuk bisa menjadi generasi penerus dalam dunia bisnis yang sudah dirintisnya. Dan akhirnya, dari hasil musyawarah dengan isterinya, maka mereka menyekolahkan Irsyad di sekolah unggulan dan termahal di Kota Surabaya. Mereka berharap, ketika Irsyad sudah beranjak dewasa bisa menggantikan posisi ayahnya dalam menjalani dunia bisnis dengan baik.
Siang berganti malam dan malam berganti siang. Begitu juga seterusnya hingga tanpa terasa Irsyad sudah sembilan tahun berpetualang di dunia pendidikan. Sejak irsyad sekolah, perhatian dari kedua orang tuanya mulai berkurang. Hal ini disebabkan oleh kesibukan kedua orang tuanya yang hanya di fokuskan pada sebuah karier. Dan tindakan tersebut membuat tingkah laku Irsyad sudah tidak lagi terkontrol serta membiarkan irsyad termakan oleh firus-firus kehidupan Kota. Seringkali Irsyad Bolos sekolah dan memiliki banyak masalah di kehidupannya.
Melihat hal itu, kedua orang tuanya berusaha untuk membimbing Irsyad agar tidak terlanjur dipengaruhi oleh kehidupan kelam perkotaan. Namun karena banyak kesibukan yang harus diselesaikan dalam dunia bisnisnya, akhirnya mereka juga tidak sempat untuk mengarahkan dan membimbing irsyad menjadi lebih baik. Dan akibatnya, noda-noda hitam mulai menyerang pribadi irsyad serta kecerahan dalam dirinya sudah mulai lenyap tanpa bekas. Sehingga kehidupannya menjadi tidak memiliki arah dan tujuan.
“Tiada hari tanpa masalah” Merupakan ungkapan yang menjadi hiasan dalam perjalanan hidup Irsyad. Bahkan hingga detik ini reaksi dari kedua orang tua irsyad belum juga tercium, mereka sudah lupa moment-moment indah ketika irsyad pertamakali hadir ditengah-tengahnya. Dan mereka juga lupa kalau Irsyad adalah anak tunggal serta sumber harapan dalam dunia bisnisnya. Irsyad terbengkalai dan hidupnya tidak karuan, hingga hal ini mengundang perhatian banyak orang, bahkan karyawan bapak Mursyid juga prihatin atas nasib Irsyad. Mereka banyak yang tidak percaya kalau bos dan isterinya setega itu melihat perubahan buruk pada diri anaknya.
Pada suatu hari, salah satu karyawan yang bernama Farid ikut prihatin dan memberanikan diri untuk mengetahui penyebab dari perubahan anak tunggal bosnya. Ditengah-tengah waktu senggang pak Mursyid, farid mulai beraksi dan dengan bekal keberanian dia langsung nerobos masuk ruangan kehormatan milik pak Mursyid.
“Ma’af pak mengganggu” kata farid sambil menundukkan kepala
“Emangnya ada apa, kamu kok tiba-tiba masuk diruanganku?” jawab pak Mursyid dengan penuh penasaran
“Sebenarnya ada yang mau saya bicarakan ke bapak tapi yang mau saya bicarakan bukan masalah kantor, ini masalah keluarga bapak dan saya minta ma’af kalau sekiranya saya terlalu lancang membahas masalah ini ke bapak”. Kata farid dengan penuh keyakinan kalau pak Mursyid mau mendengarkan permasalahan yang mau dia bicarakan.
“Permasalahan keluarga yang mana? Saya merasa didalam keluarga baik-baik saja tidak ada masalah? Oke.. kalau memang dalam keluarga saya ada masalah, tolong jelaskan masalahnya apa?” Tanya pak Mursyid terheran-heran
Tanpa ragu lagi, farid mulai menceritakan permasalahannya:“Bapak memang tidak merasa ada masalah yang mengenaskan dalam keluarga bapak, soalnya menurut pengamatan saya, bapak hanya sibuk mengurusi bisnis bapak dan tidak pernah mau tau tentang nasib yang di alami oleh putra bapak”
“Ooh ternyata masalah Irsyad…!!! Sebenarnya saya bukan tidak mau tahu tentang masalah itu, saya hanya tidak ingin masalah ini sampai ketelinga orang banyak apalagi karyawanku sendiri”. Jawab Pak Musyid dengan senyuman, kemudian dia melanjutkan lagi pembicaraanya: “Saya memang mengakui kesalahanku dan isteriku yang tidak pernah memperhatikan Irsyad, tapi mau gimana lagi, saya dan isteri saya tidak punya waktu untuk mengurusinya. Kamu tahu sendirikan, kalau kantor ini saya tinggal sebentar saja sudah menghilangkan keuntungan besar dari klien. Sebenarnya saya ingin Irsyad menjadi penerus untuk memajukan perusahaan ini, tapi sepertinya saya tidak menemukan solusi lagi untuk mendidik Irsyad bukan hanya dari kepintarannya tapi juga dari segi moralnya”.
Mendengar hal itu, kemudian langsung disanggah oleh Farid: “Kalau memang bapak tidak punya waktu untuk mendidik atau mengurusi putra bapak, tapi bapak ingin yang terbaik buat buat putra bapak, sebenarnya kalau bapak mengijinkan saya untuk memberi solusi tentang masalah ini, maka dengan senang hati saya akan memberi tahu solusinya. Tapi kalau bapak tidak mengijinkan saya untuk memberi solusi, saya juga terima”.
Silahkan beri tahu saya tentang solusimu, memangnya solusimu apa? Tanya pak Mursyid penuh tanda Tanya.
Dengan santai farid menjawab: “sebenarnya bapak cukup memasukkan putra bapak ke Pesantren, selain mendapatkan banyak wawasan tentang ilmu agama dan ilmu umum, di Situ juga ada semacam bimbingan membentuk Insan yang mulia, baik di Hadapan Tuhan Maupun Di Hadapan Manusia dengan berbagai tausiyah atau Nasehat yang berdasarkan Al-qur’an dan Sunnah”.
Mendengar penjelasan farid, Mursyid langsung berkata : “memang benar apa yang kamu katakan, tapi menurut sepengetahuan saya, pesantren itu yang dipelajari hanya pengetahuan agama dan arahnya Cuma kepentingan akhirat saja. Sebenarnya kepentingan akhirat juga penting, tapi kalau tidak diimbangi dengan urusan dunia, maka untuk mengerjakan kepentingan akhirat tidak akan sempurna.”
“Ma’af, bukannya saya mau menggurui bapak” jawab farid dengan memotong pembicaraan pak Mursyid. Kemudian dengan santai dia melanjutkan pembicaraannya “Memang bapak benar, kalau kepentingan akhirat tanpa di Imbangi dengan urusan dunia akan pincang. Tapi Pesantren sekarang sudah banyak yang mengikuti perkembangan zaman, banyak alumni dari pesantren yang ahli dibidang elektronik, kedokteran bahkan pembisnis yang keluaran dari pesantren juga banyak yang mengalami kesuksesan. Karena pesantren zaman sekarang pendidikan formalnya banyak mengikuti kebutuhan masyrakat saat ini, seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES), Bahkan Sekolah Tinggi Tekhnologi (STT) sudah masuk ditengah-tengah pesantren. Meskipun pendidikan pesantren sudah di masuki oleh Ilmu-Ilmu dari Luar, akan tetapi Identitas Moral Santri tetap terjaga dan Insya Allah moral para pelajar atau mahasiswa yang lulusan pesantren tetap terpelihara dan bahkan dilindungi oleh pengetahuan agamanya.
Mendengar penjelasan dari farid, pak Mursyid hatinya mulai tersentuh untuk memasukkan irsyat kepesantren. Namun sebelum dia memutuskan untuk memasukkan Irsyat ke pesantren, dia meminta pendapat dari istrerinya tentang usulan dari farid. Akhirnya sang isteri sangat merespon dan mendukung tentang usulan tersebut. Namun meskipun Sang isteri sangat menyetujui tentang hal itu, akan tetapi Irsyadnya sendiri malah membantah kemauan orang tuanya. Irsyad menganggap bahwa Orang tuanya tidak sayang dan membiarkan dirinya hidup terbengkalai dan bahkan mau dititipkan kepada orang lain. Namun, dengan dengan munculnya olahan kata yang indah dai lisan kedua orang tuanya , serta rayuan yang mesra sehingga membuat Irsyad pasrah dan menerima permintaan dari kedua orang tuanya.
Keesokan harinya, pak Mursyid meminta pentunjuk farid untuk memilihkan pesantren yang menerapkan pengetahuan umum dan menyeimbangkan dengan pengetahuan agama. Dengan senang hati farid memberi petunjuk tentang pesantren yang pak Mursyid maksud. Dan akhirnya pesantren yang menjadi pilihan kelurga pak Mursyid adalah Pondok Pesantren Nurul Jadid. Sesuai dengan Namanya, pesantren ini seringkali menciptakan generasi penerus yang memiliki semangat baru, lembaran baru, serta cahaya baru yang selalu muncul pada diri santrinya. Pondok Pesantren Nurul Jadid terletak jauh dari kebisingan kota, sehingga membuat aktifitas belajar tidak terganggu dan berjalan berjalan mulus tanpa ada hambatan.
Satu minggu kemudian, pak mursyid sekeluarga mulai mengantarkan Irsyad di tempat suci yang menjadi tempat Irsyad untuk menimba serta menumbuhkan benih-benih cinta. Baik terhadap Ilmu agama serta ilmu-ilmu yang lainnya. Ketika pertama kali keluarga pak mursyid menginjakkan kakinya di pondok tersebut, mereka sempat kaget dan tidak percaya kalau di tengah-tengah pedesaan yang jauh dari kebisingan kota, terdapat bangunan-bangunan megah dan peralatan-peralatan canggih. Mereka juga kaget ketika melihat kegiatan para santri yang dipenuhi oleh kemandirian serta penuh tanggung jawab terhadap pribadi dan orang lain. Setelah melihat semuanya, pak mursyid bertambah yakin kalau Irsyad putranya akan berubah dan memiliki pengetahuan umum yang didasari oleh pengetahuan agama serta bisa belajar hidup mandiri dan disertai dengan rasa penuh tanggung jawab baik pada dirinya sendiri maupun orang lain .
Setelah semua kebutuhan terpenuhi, akhirnya Irsyad harus terpisah oleh kedua orang tuanya. Dan dia juga harus mulai membuka lembaran-lembaran baru serta meninggalkan kehidupan kelam yang sebelumnya menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Hari pertama dilalui oleh Irsyad dengan penuh kegundahan, karena dia merasa hidupnya mulai terkekang dengan peraturan pesantren. Bahkan dia sudah mulai gelisah dan berusaha untuk kabur, akan tetapi usahanya sering kali dipergoki oleh pengurus keamanan . Irsyad merasa tidak bebas dan belum bisa beradaptasi dengan lingkungan yang Agamis serta penuh dengan peraturan.
Sejak Irsyad dihalau oleh kegelisahan, dia sering melamun dan menyendiri serta dia mampu menghasilkan kata per kata, bait per bait hingga menjadi sebuah puisi
Aku tidak mengerti
Aku bingung
Bingung tentang diriku
jalan hidupku
arah serta tujuan hidupku
Aku tidak mengerti
Perubahan dalam diriku
Perubahan dalam hidupku
Perubahan dalam lingkunganku
Aku terasa berada dalam sebuah penjara
Kebebasan telah tiada
Hanya tekurung dan merenung
Akankah diri ini menemukan arti semuanya ?
Waktu terus berbutar mengiringi pergantian siang dan malam serta menjadi saksi terhadap gerak-gerik sang pemuda yang berada dalam kegundahan. Karena merasa sudah tiadak bisa berbuat apa-apa, kemudian dia menjadi pasrah dan perlahan-lahan dia mulai mengikuti kegiatan-kegiatan yang sudah dirancang oleh pengrus pesantren.
Hari demi hari Irsyad lewati dengan baik, hatinya sudah mulai tercerahkan dengan siraman rohani yang dibimbing oleh kiyai dan para ustadz. Dia sudah menemukan jati dirinya serta menemukan arah dan tujuan hidupnya yang sebelumnya sempat sirna. Setelah Satu bulan mampu beradaptasi dengan baik, Irsyad mulai mendaftar dilembaga formal milik pesantren. Dia memilih SMK dan mengambil jurusan Tekhnik Informatika. Semangat baru mulai muncul dan dia menjadi sangat tekun serta banyak guru yang sempat kagum atas kerajinan dan ketekunan Irsyad. Dia lalui rantawannya dengan baik, bahkan dia sering berprestasi baik dilingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Selain dia belajar dilembaga formal, untuk menambah wawasannya dia kemudian mendaftarkan diri kelembaga Bahasa Asing milik pesantren. Dua bahasa sekaligus (Arab dan Inggris) irsyad pelajari dengan baik dan akhirnya dia dapat menguasainya meskipun banyak kendala dan hambatan yang menjadi tantangan dia ketika berusaha menguasai dua bahasa asing tersebut. Banyak juga prestasi yang diraih Irsyad waktu itu. bahkan prestasinya hingga tercium ketingakat Internasional.
Tanpa terasa Irsyad sudah bisa melepas status siswanya dengan baik. Dan dia tetap setia untuk melanjutkan studinya di lingkungan pesantren. Dan akhirnya dia memilih Universitas Nurul Jadid sebagai pilihan utamanya, dengan mengambil Fakultas Ekonomi Islam Untuk memenuhi keinginan orang tuanya.
Dengan kegigihannya serta semangat juang yang tinggi, Irsyad lalui studinya dengan baik sehingga dia memperoleh gelar sarjana dengan nilai coumlot. Meskipun dia sudah menyelesaikan studi formalnya, dia tetap mau mengabdi dan ingin mengikuti kegiatan-kegiatan pondok pesantren. Karena dia yakin kalau dipesantren masih terdapat banyak ilmu yang belum dia dapat. Dan akhirnya dia pun dengan bangga dan setia menemani pesantren. Dari lubuk jiwanya yang paling dalam dia ungkapkan kebahagiaannya dengan catatan Indahnya.
Dari titik NOL ku melangkah
Mengikuti arus lautan suci
Hingga…
Ku mulai tanam
Benih cinta
Dalam qolbuku
Dalam jiwaku
Dalam ragaku
Segudang permata
Segudang barang berharga
Kau berikan
Kau sebarkan
Tanpa ada secuil penyesalan
Aku salut pada diri Mu
Aku Bangga Hidup bersama MU
Kan Ku tanam selalu
Benih Cinta Untuk Mu
Waktu akhirnya harus memisahkan Irsyad dari kehidupan Pesantren, meskipun terasa berat bagi Irsyad, namun hal ini sudah menjadi kehendak yang di Atas. Dan akhirnya kedua orang tua Irsyad menjemputnya, dengan raut wajah yang memancarkan senyum manisnya. Kedua orang tua Irsyad mengucapkan banyak terima kasih kepada pengasuh pesantren, karena telah menjadikan Irsyad menjadi sosok yang mereka harapkan.
Dan akhirnya Irsyad kembali kerumah dan berencana untuk melanjutkan studinya di Luar Negeri. Dan ternyata dia mendapatkan beasiswa dari salah satu Universitas di Inggris, ketika Bapak Mursyid dan ibu Rahma melihat prestasi yang diraih oleh purtranya, mereka dengan bangga selalu memenuhi kebutuhan Irsyad bahkan mereka memperlakukan Irsyad seperti Anak emasnya.
Setelah sekian lama Irsyad berada di Inggris, akhirnya dia Sudah selesai dan kembali ketanah kelahirannya. Dan dia melanjutkan bisnis bapaknya yang sudah diserahkan kepadanya. Irsyadpun dengan semangat menjalani tanggung jawabnya dengan baik, sehingga banyak perubahan positif pada perusahaan milik bapaknya. Melihat semuanya berjalan dengan baik, bapak Mursyid sangat bersyukur karena perubahan yang terjadi pada diri Irsyad berakar dan tumbuh karena pesantren. Oleh karena itu, sekarang dia sudah tidak lagi menganggap pesantren kolot bahkan dia sering memuji-muji keagungan dan kepiawanan pesantren. ”Pesantren is The Best” itulah kata terakhir darinya.







0 komentar:
Posting Komentar