Cernak (Cerpen Anak)
Oleh: Abung Alfarisy
Happy birthday to you ...
Happy birthday ... Happy birthday ...
Happy birthday to you .......
“Selamat ulang tahun ya anakku,”
kata Mama Karin sembari mencium kedua pipi buah hatinya yang sedang bahagia diulang
tahunnya yang ke 9. Semua undangan pun bergantian mengucapkan selamat kepada Karin,
termasuk Maya teman Karin yang hidupnya paling sederhana di antara yang lain. “Terimakasih
banyak ya, Maya udah nyempetin hadir diulang tahunku,” ucap Karin kepada Maya
diikuti dengan senyum manisnya. “Sama-sama Karin,” jawab Maya seraya
membalas dengan senyuman pula.
Ketika semua undangan
menikmati hidangan yang disuguhkan oleh keluarga Karin, Maya termenung dalam
hatinya bergumam “Aku ingin sekali di hari ulangtahunku perayaannya seperti
ini, tapi rasanya tidak mungkin. merayakan saja belum pernah, apalagi
perayaannya semewah ini, semuanya hanya mimpi, belum bisa aku jadikan kenyataan,”
masih dengan pandangan kosongnya.
“Maya,kok melamun ... ?”
kata Karin membangunkan Maya dari lamunannya, Maya pun kaget dan merasa bingung
sendiri, “Hehehehehe maaf ya, Aku gak sadar kalau ada Karin di sampingku”
ucap Maya sembari meringis dengan wajah tersipu malu. “Ya sudah, nikmati saja
tuh makanan yang aku sediain, jangan sambil melamun ya,” jawab Karin dengan
sedikit senyuman. Maya pun langsung mengambil hidangan yang sudah tersedia di
meja. Semua menunya lengkap, bahkan Maya sempat bingung mau makan yang mana. Karena
hidangan tersebut merupakan hidangan yang pertama kali dia temukan.
Setelah acara di rumah Karin
selesai, Maya bergegas pulang ke rumah karena dia harus melanjutkan untuk
membantu ibunya berjualan kue. Pekerjaan itulah yang sering Maya lakukan untuk
bisa menyambung hidup. Sedangkan ayah Maya sudah lama tiada, kini Maya hanya
tinggal dengan ibu dan adik-adiknya di rumah yang sederhana, namun
kesederhanaan tersebut tidak membuat Maya malu atau gengsi untuk bergaul dengan
teman-temannya yang rata-rata dari keluarga menengah keatas.
Usia Maya dengan Karin
hanya selisih satu bulan, namun Maya selama hidupnya tidak pernah merayakan
ulangtahunnya, dia hanya diberi tambahan uang jajan saja oleh ibunya ketika Maya
ulang tahun. Meskipun seperti itu, Maya sangat mengerti tentang kesedernahaan
keluarganya, dia tidak pernah menuntut ini dan itu kepada sang ibu. Semua yang
ibu Maya berikan, dia menerima meskipun dia tidak begitu suka dengan
pemberiannya. Kepada adiknya pun demikian, jika Maya punya barang, kemudian
adiknya ingin memiliki barang tersebut, Maya pun berusaha untuk mengalah demi kesenangan
dan kebahagiaan adiknya. Sehingga bagi Maya kesederhanaan yang dia alami,
merupakan kebahagian yang dia miliki.
Hari pun silih
berganti, siang dan malam mondar mandir tanpa henti, mengiringi perjalanan
hidup Maya yang berbalut kesederhanaan. Tinggal menghitung hari. Ulang tahun Maya
semakin dekat, tidak ada tanda-tanda kalau
ulang tahun Maya akan dirayakan, hal itu sudah dianggap biasa oleh Maya. Karena
memang setiap tahun dia tidak pernah merayakan ulang tahunnya.
Happy birthday to you
...!!!
Akankah kata itu akan
kudengar di hari ulang tahunku?
Akankah ada yang
menyampaikan kata itu untukku ?
Akankah kata itu hadir
menjadi saksi bertambahnya usiaku ?
Aaah ....!! rasanya
tidak mungkin
Semua hanyalah
hayalanku
Semua hanyalah impianku
Semuanya semu tiada
bukti nyata untukku
Tapi ....
Tetap aku ucapkan nanti
Hanya untukku sendiri
Happy birthday to Me ...
Akhirnya tibalah hari
yang menjadi saksi bertambahnya usia Maya. Namun suasana dihari itu tidak ada
bedanya dengan hari-hari biasa. Maya tetap beraktifitas seperti biasanya,
sekolah dan membantu ibunya berjualan kue. Maya pun tidak sedih jika ulang
tahunnya kembali tidak dirayakan, yang penting bagi Maya dia bisa hidup bahagia
bersama orang–orang terdekatnya.
Akan tetapi, Maya
merasakan ada yang aneh pada ibunya. Biasanya sang ibu jika Maya ulang tahun
tidak pernah lupa memberi tambahan uang jajan sebelum berangkat sekolah. Namun
dihari ulang tahun yang sekarang, malah tidak ngasih uang jajan tambahan.
Bahkan ibunya tidak pernah menyinggung sedikit pun tentang hari ulang tahun Maya.
“Aneeh, apa mungkin ibu lupa ya?” tapi biasanya ibu gak pernah lupa.. gak
apalaah yang penting ibu dan adik-adikku masih sehat.” Ucap si Maya dengan
sedikit kebingungan, namun dia tetap menerima keadaan dan tidak meminta ibunya
untuk mengingat hari ulang tahunnya.
Setelah pulang sekolah
ketika Maya di rumah, ibunya menyuruh Maya mengantarkan pesananan kue ke salahsatu
alamat. Maya pun segera berangkat mengantarkan kue tersebut, langkah demi
langkah dia gerakkan kakinya menuju alamat yang dituju. Namun setelah Maya
sampai di alamat rumah tersebut. Maya bingung, karena di rumahnya terasa sepi
dan tidak ada sedikit pun orang yang tampak di rumah itu. Berkali-kali Maya
pencet bel. Tapi tidak ada tanggapan dari pemilik rumah. Aduuuh gimana nih??
Kok gak ada orang?? Mau ditinggal takut kuenya ada yang ngambil, aduuuh gimana
ya??” Ucap Maya kebingungan.
Sesaat kemudian .......
Happy birthday to Maya ...
Happy birthday to Maya ...
Happy birthday ... Happy birthday ...
Happy birthday to Maya .......
Maya pun kaget, serta
tidak pernah menyangka kalau ini akan terjadi, hingga dia gak bisa mengucapkan
kata-kata, dia bingung apa yang harus dia lakukan, menangis karena terharu dan
kebahagiaan bercampur menjadi satu.
“Makasih banyak teman –
teman, kalian memang benar-benar terbaik buat ku, terima kasih.”
Hanya kata-kata itulah yang mampu diucapkan Maya di hadapkan teman-temannya.
Linangan airmata kebahagiaan telah menghiasi pipi merahnya. “Selamat ulang
tahun Maya ...!” kata Karin “Kami memang sengaja merencanakan ini semua,
termasuk ibu dan adik-adikmu, karena kami tahu bahwa Maya sangat mengharapkan
perayaan dihari ulang tahunnya, meskipun hanya sederhana,” tambahnya. Maya
pun menghampiri teman-temannya dan berkata “terimakasih banyak teman... aku
hanya mampu tersenyum sebagai tanda terimakasihku kepada kalian,” kemudian
mereka pun saling berpelukan, peluk erat seolah-olah tidak ingin berpisah.
Disaat mereka berpelukan, datanglah ibu Maya dan adik-adiknya dengan senyum
indah yang tertuju pada Maya. Beliau pun ikut bergabung dan menikmati kue
buatannya sendiri serta kue-kue lain dari teman-temannya.
Akhirnya Maya memahami
tentang sikap aneh ibunya yang tidak memberi uang jajan tambahan. Ternyata sang
bunda telah bekerja sama merencanakan kejutan ini semua. “Terimakasih ibu,
adik-adikku, terimakasih kawan dan terimakasih semuanya. Senyumku akan selalu
aku hadiahkan kepada kalian semua.”
I Love To all ^_^






0 komentar:
Posting Komentar