Oleh: Abung Alfarisy
Hidup di tengah gedung berdiri, tegap menatap langit tanpa henti. Desiran merdu angin yang dirindu, berubah menjadi kepulan asap yang menggebu. Narcissus melawan ganasnya kehidupan kota yang semakin mencekam, terlahir sebagai laki-laki berparas sutra, dengan bekal topeng yang tampan, harta bertebaran, bahkan tahtanya pun mapan. Namun teropong kedua orang tuanya tidak sempat memantau, sehingga membuat dirinya terbang bebas menelusuri dunia tanpa batas.
Narcissus selalu terlihat percaya diri, karena memang dia merasa dirinya paling cakep, dengan senyuman dan tatapan puas ketika di depan cermin. Dari kepuasan itulah, nalurinya selalu mendorong mencari kupu-kupu malam yang tidak begitu susah untuk ditemukan. Lembaran malamnya selalu dibumbui dengan coretan tinta hitam, tanpa ada segores tinta putih menghiasi setiap lembaran yang dimiliki. Kelihatan suram namun masih saja kenikmatan yang dia rasakan.
******
Waktu telah berlalu mengikuti alur kisah Narcissus menjadi seorang laki-laki, yang masih belum puas mengagumi diri. Sehingga sifat ‘Nakal’nya terus melaju ke level tertinggi. Namun melihat putranya semakin liar, Liriope dan Cephisus sebagai ibu dan ayah Narcissus, mencoba untuk mengikatnya dengan memberikan cinta berupa sesuatu yang menjadi rahasia.
Waktu telah berlalu mengikuti alur kisah Narcissus menjadi seorang laki-laki, yang masih belum puas mengagumi diri. Sehingga sifat ‘Nakal’nya terus melaju ke level tertinggi. Namun melihat putranya semakin liar, Liriope dan Cephisus sebagai ibu dan ayah Narcissus, mencoba untuk mengikatnya dengan memberikan cinta berupa sesuatu yang menjadi rahasia.
“Narcissus
anakku, pendamlah duniamu itu,” ucap Liriope, ketika melihat Narcissus yang
hidupnya semikin tidak terarah.
“Sulit untuk
memendam dunia yang telah terlanjur kunikmati, wahai Ibu,” jawabnya dengan
penuh percaya diri.
“Jangan
kautolak perintah Ibumu, Narcissus!” bentak Cephinus, ketika mendengar jawaban
dari Narcissus
“Sudah Ayah, jangan terlalu kaukasar dengan anak sendiri,” Liriope melerai.
“Sudah Ayah, jangan terlalu kaukasar dengan anak sendiri,” Liriope melerai.
Narcissus
tertunduk melihat muka Ayahnya yang merah, tanpa bisa berucap seolah mulut
terkunci dalam sekejap.
“Narcissus,
Maafin Ayah, dia tidak bermaksud untuk menyakitimu,” bisik Liriope sembari
mengelus-elus kepala Narcissus.
“Kami punya
sesuatu buat Narcissus, tapi sesuatu itu bisa diperoleh, jika Narcissus mau
ninggalin dunia kelam itu,” dengan lantang Cephinus berujar, sambil menatap
penuh harapan untuk membujuk putra semata wayangnya. Narcissus tetap
menggeleng-gelangkan kepala, sebagai simbol penolakan tawaran dari Ayahnya.
“Ok, kalau
Narcissus tidak mau, tapi sebelumnya lihat dulu, seperti apa sesuatu yang kami
maksud,” ucap Cephinus, Narcissus pun setuju.
“Silahkan masuk,” perintah Chephinus pada seseorang yang dari tadi sudah siap menunggu datangnya perintah.
Kemudian tampak seorang gadis polos, berparas cantik dihiasi senyuman yang menggelitik, hingga mampu menghipnotis pandangan Narcissus dalam beberapa detik. Narcissus sempat tidak bisa memejamkan mata, bahkan tatapannya seakan mulai untuk menyapa.
“Sesuatu berupa
gadis inilah yang kami maksud, Dia bernama Echi” kata Cephinus memberikan
kesempatan kepada Narcissus untuk cepat mengambil keputusan.
“Baik, Ayah dan
Ibu, aku akan mencoba terima tawaran ini.”
Akhirnya
Chepinus dan Liriope bisa bernafas lega mendengar keputusan akhir dari
putranya. karena merasa berhasil membujuk Narcisus dengan segala perasaan
cinta, sehingga Narcissus siap menjadi pemilik tulang rusuk gadis, yang sudah
menjadi pilihan orang tuanya.
*****
Pernikahan sudah berlangsung lama, mengikuti getaran cinta penuh irama, sehingga bertahun-tahun singgasana asmara di antara Narcissus dengan sang Permaisuri Echi, mengundang polemik yang menguncang dunia. Perlahan-lahan deraian air mata menetes dengan sendirinya, ketika pasukan "Retroviruses" menyerang keduanya. Tubuh yang semula kekar kini sudah kerontang. Wajah yang semula tampan kini sudah menjadi santapan, oleh virus-virus yang menggerogoti tubuhnya. Akhir cinta yang begitu tragis. Sang Permaisuri yang hanya menerima kini juga ikut merasakannya.






0 komentar:
Posting Komentar