Ads 468x60px

Search Box

Senin, 02 Desember 2013

Bakar


Oleh: Abung Alfarisy

“Joy tunggu,” teriakku ketika melihat Joy tetanggaku berjalan menuju rumahnya.
Joy pun berhenti.
“Kamu mau pulang?” tanyaku mengharap Joy benar-banar mau pulang
“Iya,” jawabnya singkat
“Wah Kebetulan, aku mau titip poster ini,” kusodorkan sebuah poster ke tangan si Joy
“Kenapa kamu titipkan ini ke aku?” tanya Joy heran.
“Aku titip sebentar karena ada urusan, aku pun tidak bisa langsung pulang. Nanti kalau urusanku sudah selesai, aku ke rumahmu untuk ambil poster itu,”
“Kenapa kamu tidak bawa saja posternya?” tanyanya lagi.
“Takut hilang dan rusak,” jawabku singkat, sembari terburu-buru untuk pergi.
“Oh, ya. Tolong jangan sampai hilang atau rusak ya...!” kataku lagi untuk mengingatkan si Joy agar menjaganya.

****
Tok... Tok... Tok....
“Assalamu’alaikum....!!!”
Pintu pun terbuka .....
“Wa’alaikumusSalam, Eeh si Roby. Sudah selesai urusannya?” tanya Si Joy sambil tersenyum
“Alhamdulillah sudah Joy,” jawabku sembari menghela nafas panjang karena sedikit kelelahan.
“Oh ya, mana Posterku?” tambahku.
“Dibakar,” jawabnya santai
“Apa? Dibakar?”
“Plaakkkkk.....!!!” spontan kutampar dia
“Ouw...Sakit....!!” teriaknya menahan rasa sakit
“Kenapa kau langsung tampar aku?” tambahnya terheran-heran.
“Oooh.. kamu kira aku tidak marah, sudah tahu kalau poster itu berharga bagiku, ternyata kau telah merusaknya,” emosiku memuncak tidak terkendali.
“Apa maksud semua ini? Siapa yang bilang Postermu rusak?” tanya si Joy masih bingung
“Memang tidak ada yang bilang rusak tapi dibakar, itukan sama saja. Dasar benar-benar keterlaluan kau!”
Mendengar jawabanku si Joy tiba-tiba tertawa.
“Hahahahahahaha... Bakar itu nama adik sepupuku, dia lagi pinjem postemu untuk dijadikan Objek gambar tugas di sekolahnya”,
 Aku pun terdiam, rasa menyesal bercampur rasa malu menyatu dalam diriku.
“Maafin aku Joy,” kataku lemas penuh dengan rasa bersalah.
“Iya tidak apaapa, lain kali jangan langsung main tampar aja, tanyakan dulu biar tidak nyakitin orang,” tambahnya mengingatkanku.
“Iya aku khilaf Joy”
Aku pun peluk dia sebagai rasa bersalahku karena telah menyakitinya.

0 komentar:

Posting Komentar