Pada
secarik kertas ...
Sayang
...
Aku
akan menjadi ombak penyelamat ketika lautan berusaha menenggelamkanmu
Aku
akan menjadi air pendingin ketika api membaramu
Aku
akan menjadi payung ketika hujan mengguyurmu
Aku
akan menjadikan kamu sebagai tinta untuk memberikan warna dalam jiwaku
Aku
akan berusaha membuatmu tersenyum selalu ketika kau melihat diriku
Aku
akan selalu ada untukmu...
Sayang
...
***
Ketika
kuselesai membaca,
Datang
sosok laki-laki impianku menghampiri, dan berdiri tepat di hadapanku.
Seketika
itu juga, belaian mesraku mendarat pada wajah tampannya, dan dengan lembut kulafadkan
kata terimakasih untuk dirinya.
“Terimakasih
sayang...!” sembari tangan masih nempel di pipinya.
“Kata-kata
indahmu telah menghipnotisku.”
***
Huuuuuuuuft....
Huuuuuuuuuft
Tiupan
kencang mendarat pada wajahku ...
“Ayah...!!”
kataku kaget, karena Ayahlah yang ada di depanku
“Ada
apa ini Laila, kau belai-belai ayah seperti ini?” tanya Ayah terheran-heran.
“Hehehe
ma’af Yah, terbawa suasana, akhirnya lupa dengan yang sebenarnya,” jawabku
tersipu malu
“Lain
kali baca surat jangan sambil melamun, biar tidak ada korban lagi” kata ayah
mengingatkanku
“Sekali
lagi ma’af Laila khilaf, tapi kenapa ayah tiba-tiba ada di kamar Laila?”
tanyaku penasaran.
“Aku
cuman mau mengembalikan ini,” jawab Ayah, seraya menyodorkan novel yang
dipinjamnya kemarin.
“Hehehe
kirain Ayah pangeran impian Laila, yang dikirim memang buat Laila,” gumamku
dalam hati.
Nasib...
Nasib...!! Semua itu hanyalah hayalan.”






0 komentar:
Posting Komentar